Menengok Santri Njoso Meledakkan Sholawatan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Grup akustik musik Islami Santri Njoso saat menyanyikan lagu Annabi Shollu Alaih/Repro

Sulthon Falakhudin melantunkan lirik Sholawatan Asnawiyyah dengan penuh penghayatan. Ia bersenandung dengan nada tinggi, yang seakan sedang menari nari. Cengkok timur tengahnya meliuk-liuk fasih, meresapi telinga. Seolah tengah melengkapi penampilannya yang santri.

Ya Robbisholli ‘ala Rasuu li Muhammadin sirril ‘ulaa
Wal anbiyaa’ wal mursaliin al ghurri khotman awwalaa
Ya Robbi nawwir qolbanaa binuri quraanin jala
Waftah lanaa bidarsin aw qiroatin turotalaa
Warzuq bifahmil anbiyaa lanaa wa ayya mantalaa
Tsabit bihi iimananaa dunya wa ukhron kamila

Komposisi musik yang mengiringi Sholawat Aswaniyyah dalam rekaman video youtube, menyisipkan harmonisasi gending gamelan Jawa. Sholawat Asnawiyyah merupakan karya Kiai Raden Asnawi Kudus pada tahun 1925, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) asal Kudus, Jawa Tengah.

Isi Sholawat Asnawiyyah bukan hanya mengagungkan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Tapi juga doa untuk santri, pelajar, bangsa dan negara Indonesia.

Irama pentatonis gamelan menimbulkan suasana teduh, damai, sekaligus menyentuh hati. Pada lirik terakhir yang berisi doa khusus untuk Indonesia, suara Sulthon yang meluapkan energi optimisme, mengalun syahdu.

Aman aman aman aman Indonesia raya aman
Amin amin amin amin yaa robbi robbal ‘alamin
Amin amin amin amin wayaa mujiibasassailiin

Sulthon merupakan second vokalis grup Santri Njoso. Duetnya bersama Mualim Mafhuddin yang memegang posisi vokal utama, saat ini sedang melangit. Di media sosial youtube, grup Santri Njoso yang berlatar belakang santri Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang, Jawa Timur tersebut, lagi naik daun. Channel Santri Njoso yang baru berumur kurang lebih tiga tahun, telah menyedot 631 ribu subscriber.

“Setiap lagi mencari cover lagu Islami, channel Santri Njoso selalu muncul,” demikian kata penggemar lagu-lagu bernuansa Islam. “Artinya peminatnya memang tinggi”. Ya, di tengah maraknya grup musik yang mengusung irama ngepop dengan lirik kontemporer, lagu-lagu Islami Santri Njoso telah memberi nafas baru.

Santri Njoso lebih banyak mendaur ulang (cover) lagu Islami lama, terutama sholawat yang itu terbukti sukses mencetak pasar sendiri. Sebut saja “Annabi Shollu Alaih” yang dibawakan dengan irama akustik. Baru 14 jam diunggah di channel Santri Njoso, sebanyak 8,4 ribu warganet telah menontonnya.

“Yang dikangenin setiap Minggu pagi, ya santri njoso,” tulis akun @egi fany dalam kolom komentar channel Santri Njoso. Saking senangnya akun @Wong dung Punduung menuliskan komentar: Pagi-pagi disuguhin anak-anak sholeh yang keren…wajah berseri-seri..success terus untuk santri Njoso.

Hal senada diungkapkan akun @Muhammad Yusuf, yang menulis komentar, “Masya Allah Nadanya Adem banget…Sukses Terus Kakak Santri Njoso.

Begitu juga dengan cover lagu “Wulidal Huda” yang diunggah tujuh hari lalu. Suara Mahfud yang diiringi petikan gitar akustik Sulthon, berhasil menyita perhatian 18 ribu penonton. Puluhan komentar warganet bernada positif seketika bertebaran. Dengan kepiawaian yang dimiliki masing-masing personel, Santri Njoso mampu melagukan sholawat dengan berbagai genre musik.

Hal itu sekaligus menepis anggapan: soal musik, santri tertinggal. Dari modern, tradisional maupun kombinasi keduanya, Santri Njoso mampu meraciknya dengan apik sekaligus memikat.

Irama SKA, Reggeae, Keroncong, Medley, Piano, Banjari, Sunda, mereka suguhkan dengan harmonisasi nada yang ciamik, tanpa mengurangi substansi lirik yang dibawakan.

Misalnya untuk lagu “Lama’al Barqul Yamani”. Santri Njoso memberi sentuhan lirik berbahasa arab tersebut dengan irama Reggeae Akustik. Dalam penggarapan genre reggeae ini Sulthon dan Mahfud melibatkan santri Alam sebagai pemetik second gitar, dan Rifky Dawamil yang berposisi sebagai pembetot bass.

Saat melagukan Sholawat Nariyah dan Munjiyat, Santri Njoso memasukkan Ayu Dewi al-Mighwar sebagai featuring. Munculnya suara santriwati di tengah senandung koor suara santri dalam genre medley, memberi warna baru yang segar.

“Mereka modern, santun dan Islami,” tutur salah seorang penggemar mengungkapkan alasan kerap memutar lagu-lagu Islami.“Jarang-jarang ada grup musik yang personelnya berlatar belakang santri, melagukan sholawat dengan gayanya sendiri,” imbuhnya.

Para penggemar Santri Njoso bukan hanya datang dari kalangan milenial. Para orang dewasa juga tidak sedikit yang menanti unggahan karya baru Santri Njoso. Dalam channel youtube Pondok Njoso, Ahmad Kurniawan alias Wawan menceritakan perjalanan grup Santri Njoso yang mulai berdiri pada akhir tahun 2018.

Awalnya hanya berdua, yakni Wawan dan Sulthon Falakhudin. Keduanya bersepakat membuat channel youtube dengan konsep meracik sholawat menjadi lagu-lagu dengan beragam genre musik. Wawan berperan sebagai editor video dan Sulthon mengeditori musiknya.

“Kami sama-sama santri Ponpes Darul Ulum yang sebelumnya dipertemukan dalam lomba-lomba sholawatan saat SMA,” kata Wawan bercerita.

Pengambilan nama Santri Njoso juga sederhana. Mereka beralasan karena semuanya santri Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang. Sebutan Njoso adalah sebutan populer yang ditujukan kepada para santri Darul Ulum.

Njoso merujuk pada lokasi pondok yang berada di Desa Rejoso. “Jadi nama grup Santri Njoso, tidak ada filosofisnya sih,” kata Wawan.

Dalam perjalanannya, bergabunglah Mualim Mahfuddin, Muhammad Nur Aziky dan Muhammad Rifky yang juga sama-sama santri Ponpes Darul Ulum Jombang. Ketiganya berperan sebagai talent. “Ada lagi mas Anshori yang membantu kita dari nol,” tambah Wawan.

Mereka tidak menyangka, karya yang rutin mereka posting di channel youtube Santri Njoso, ternyata mendapat respon pasar.

Ratusan ribu orang, bahkan jutaan menonton setiap video yang mereka posting. “Ada satu video yang tembus ditonton sampai 14 juta,” kata Mahfud.

Dari hari ke hari jumlah subscriber semakin membesar. Sementara di awal-awal, kata Wawan hanya 3-5 subsriber per minggu. Saat ini para personil Santri Njoso sudah duduk di bangku kuliah. Bahkan Wawan sudah menyandang status sarjana.

Di sela menjalani kesibukan masing-masing, Santri Njoso tetap istiqomah berkarya. Setiap pekan mereka memposting minimal satu karya video. Mahfud mengaku tidak membayangkan jika Santri Njoso bakal terkenal, terutama di media sosial. Sebab dari awal, niat mereka adalah mempopulerkan sholawatan.

“Tidak membayangkan terkenal. Tapi ada keinginan kuta dari kami, nanti di akhirat bisa dikenal Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: