Melihat Seni Hidup Orang Jawa Bersama Perkututnya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Ilustrasi Masyarakat Tempo Dulu Memelihara Burung Perkutut /Foto: facebook.com-Naracabalabf

santrikertonyonoEkor burung perkutut yang didominasi warna kelabu itu, terselip satu dua helai bulu putih. Bulu itu terbenam di lipatan dalam, dengan posisi di ujung. Lembaran bulu putih itu terlihat jelas saat ekor burung disibak. Sadewa menyebut perkututnya memiliki katuranggan junjung drajat.

“Seperti keris pusaka dengan pamornya dan burung perkutut dengan katuranggannya,” terang Sadewa yang merupakan warga Kota Blitar. Ada yang menyebut katuranggan bersumber dari kata turangga yang berarti kuda. Namun ada yang meyakini, katur dan angga sebagai akar katanya.

“Katur berarti menyampaikan, dan angga berarti badan,” tulis B Sarwono dalam buku Perkutut (1989). Katuranggan dalam pengertian yang lebih luas ditafsirkan sebagai pengetahuan yang menyampaikan pengertian tentang bentuk badan.

“Dalam istilah bahasa Belanda, istilah katuranggan dikenal dengan sebutan ecterieur (bentuk lahiriah, bagian badan yang tampak dari luar),” tambahnya. Selain junjung drajat yang ditafsirkan sebagai derajat yang terangkat, Sadewa juga memiliki perkutut lain.

Katuranggannya daringan kebak. Sebutan yang juga mengacu pada ciri fisik perkutut. Daringan adalah istilah Jawa yang merujuk pada wadah atau tempat menyimpan beras. Sedangkan kebak berarti penuh. Dalam arti yang lebih luas, diterjemahkan rezeki yang berlimpah.

“Dan oleh sebagian pemiara burung perkutut, khususnya orang Jawa, hal-hal seperti itu masih diyakini,” tutur Sadewa.

Memiara Perkutut Sebagai Tradisi Tua

Mulai kapan orang Jawa memiara burung perkutut? Tak ada sumber yang menyebutkan secara pasti. Namun, tradisi budaya memiara perkutut di Jawa diyakini sebagai tradisi yang berumur tua.

“Mungkin minimal sejak zaman Mataram kuno atau Majapahit,” tulis Linus Suryadi AG dalam buku Regol Megal Megol Fenomena Kosmogoni Jawa (1993).

Tuanya tradisi budaya perkutut di Jawa tak lepas dari kisah legenda Joko Mangu, seorang pangeran Kerajaan Pajajaran. Joko Mangu dimitoskan menjelma seekor perkutut, dan lalu menjadi burung piaraan kesayangan Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir.

Syahdan, suatu ketika perkutut Joko Mangu lepas dari sangkarnya. Brawijaya pun gusar dan lalu memerintahkan bawahannya melakukan pencarian. Semua tempat disisir. Bahkan raja juga turut mencari.

Di wilayah Kretek, dekat Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, perkutut Joko Mangu akhirnya ditemukan. Konon, Brawijaya sendiri yang berhasil membawa perkutut Joko Mangu kembali masuk ke dalam sangkarnya.

“Sejak saat itu, raja-raja Mataram keturunan Majapahit selalu melestarikan sekaligus menradisikan memelihara burung perkutut di lingkungan Kraton Ngayogjokarto,” demikian sumber lisan yang berkembang. “Sejak Juni 1990, burung perkutut menjadi maskot propinsi DIY”.

burung-perkutut
Kandang Penangkaran Burung Perkutut yang masih di lestarikan, Pucung, Desa Wukirsari, Bantul, Yogyakarta /Foto: Wihdan Hidayat / Republika

Memelihara perkutut juga terkait erat dengan falsafah laki-laki Jawa. Kehidupan seorang pria Jawa baru dianggap sempurna jika sudah mampu memenuhi etos pria Jawa sejati, yakni memiliki wisma (rumah), curiga (keris pusaka), turangga (kuda atau kendaraan), garwa (istri) dan kukila (burung).

Kukila diartikan manggung atau manuk anggung-anggungan yang itu merujuk pada perkutut. Kata manuk sendiri diterjemahkan berasal dari kata ‘Ma’ (Manjing) dan ‘Nya’ (Nyawa), yang berarti urip atau hidup. Karenanya di sebagian masyarakat Jawa masih berlaku wejangan: Aja mung ngoceh, nanging manggunga. Tegese yen ngomong kudu sing mentes.

Sementara Linus Suryadi AG menyatakan, etos pria Jawa sejati harus diperoleh melalui jerih payah sendiri, dan bukan mengandalkan warisan leluhur. Pameo Jawa, ana dina ana upa (ada hari ada nasi) hendaknya dilanjutkan dengan kalimat, sing sapa arep mangan, kudu metu kringete disik (barang siapa hendak makan, mestilah keluar keringat dulu).

“Etos pria Jawa sejati yang mesti menyandang 5 persyaratan tersebut (wisma, curiga, turangga, garwa dan kukila), sebenarnya sudah gugur sejak awal mana kala tata cara perolehannya bukan karena budidaya dan pergulatannya sendiri,” tulisnya.

Katuranggan Perkutut

Sebagian orang Jawa masih meyakini burung perkutut, terutama jenis lokal memiliki yoni sebagaimana yang terkandung dalam keris pusaka. Karenanya, di dunia burung perkutut berlaku pengetahuan tentang katuranggan atau ciri mathi.

Ada perkutut yang boleh dipiara karena diyakini bisa mendatangkan manfaat dan ada perkutut dengan ciri tertentu yang dipercaya mendatangkan hal-hal negatif pada pemiliknya.

B Sarwono dalam buku Perkutut menyebut ada dua macam ciri mathi, yakni yang berdasarkan pada waktu dan cara manggung (bernyanyi). “Dan ciri mathi berdasarkan tanda-tanda fisik (warna bulu, bentuk badan, warna kaki dan mata, warna dan bentuk bulu ekor,” tulisnya.

Sedikitnya ada 12 ciri mathi perkutut berdasarkan tingkah laku, waktu dan cara manggung. Salah satunya perkutut dengan katuranggan Nggendala sabda yang manggungnya keras, merdu dan enak di telinga. Katuranggan ini diyakini baik untuk dipelihara.

Sebaliknya perkutut katuranggan Durga nguwuh yang berkebiasaan manggung di tengah malam, diyakini kurang baik untuk dipiara. Sementara berdasarkan warna kaki dan paruh, ules, bentuk badan dan bulu ekor, perkutut sedikitnya memiliki 31 ciri mathi.

Purbasasmita dalam Legenda, Dasar Penilaian Suara dan Exterieur Burung Perkutut (1987) menyebut, ada beberapa bagian bentuk badan yang dapat dipakai untuk menentukan mutu perkutut. Purbasasmita merupakan Empu Perkutut sekaligus pengerajin perak di Kota Gede, Yogyakarta.

Salah satunya bentuk kepala perkutut yang dilihat dari samping. Misalnya bentuk njambe nom atau buah jambe yang masih muda, diperkirakan mutu suara perkutut bisa maksimal. “Dan keindahan suaranya itu bisa terus bertahan sampai burung berusia tua,” tulisnya.

Perkutut-Katuranggan-Gendawa-Sabda
Burung Perkutut Katuranggan atau yang Punya Ciri khas Gendowo Sabdo, disebut pembawa rezeki dan rumah tangga harmonis /Foto: majalahlovebird.net

Ciri lain yang bisa dipakai acuan perkutut jenis yang bermutu atau tidak adalah bentuk paruh, badan dan ekor. Sedikitnya ada lima ciri, diantaranya bentuk paruh ngepel (buah kepel), nggabah (seperti gabah atau butiran padi), mapah gedang (pelepah pisang), nglombok gede (cabai besar) dan nglombok rawit (cabai rawit).

Linus Suryadi AG mengatakan, di luar faktor dipercaya memiliki yoni atau kekuatan magis atau daya gaib, perkutut merupakan jenis burung yang secara alamiah memiliki potensi istimewa.

Mengacu pada kondisi badaniah dan alamiahnya, perkutut mempunyai sifat khusus yang membuat orang Jawa suka memeliharanya. Diantaranya makanan perkutut mudah didapatkan, yakni ketan hitam, beras merah, dan jewawut alias otek. Perkutut juga memiliki kebiasaan makan yang irit.

Lalu, kotoran perkutut juga tidak berbau, berumur panjang, di saat mati bangkai perkutut tidak bau, tergolong hewan jinak serta memiliki nilai ekonomis yang rerlatif stabil. Dalam hal mandi, perkutut kata Linus berbeda dengan burung-burung berkicau yang mandi sendiri. Perkutut mesti dimandikan oleh pemeliharanya.

“Itulah sebabnya burung yang di dalam bahasa Inggris dinamakan burung asmara ini, turtle dove, bagi orang Jawa dianggap sebagai burung yang manja,” kata Linus Suryadi AG dalam Regol Megal Megol Fenomena Kosmogoni Jawa.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: