Megengan, Tradisi Orang Jawa Sambut Ramadhan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Tradisi Megengan digelar oleh masyarakat di Desa Jajar Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek /Foto: Istimewa

santrikertonyonoUmat Muslim sepertinya sudah tak sabar menyambut kedatangan bulan penuh berkah yakni bulan Ramadhan. Karena begitu spesialnya bulan ini, banyak dari masyarakat yang beragama Islam menggelar beberapa kegiatan sebagai wujud syukur karena telah diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan suci yang datang satu kali dalam satu tahun ini.

Khususnya bagi masyarakat Jawa, kedatangan bulan suci Ramadhan mempunyai nilai tersendiri di benak mereka. Tak hanya sekedar mengaji bersama atau mengundang tokoh agama untuk memimpin acara, tetapi mereka tak lupa asal usul “Jawa” nya, tentu dengan menggelar acara hasil akulturasi budaya Jawa dengan Islam yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Sebagai negara yang terbentuk dari keberagaman adat, suku dan budaya, banyak dari umat Muslim di Indonesia yang berlomba-lomba menggelar acara meriah nan penuh sarat budaya dan agama dengan penyebutan yang berbeda-beda. Namun, pada intinya sama, acara-acara itu digelar wujud suka cita dalam menyambut bulan puasa.

Dari sekian banyak istilah tradisi unik dalam menyambut ramadhan di seluruh penjuru Indonesia, terdapat salah satunya tradisi yang selalu digelar oleh masyarakat Jawa yakni tradisi Megengan. Pada umumnya, tradisi ini banyak digelar oleh mayoritas masyarakat yang berdomisili di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Belum lama ini tradisi Megengan juga digelar oleh masyarakat di Desa Jajar Kecamatan Gandusari Kabupaten Trenggalek. Apabila tradisi Megengan identik dengan rentetan acara yang kental akan budaya dan kesakralan. Maka berbeda dengan tradisi Megengan yang disuguhkan oleh masyarakat Desa Jajar ini, Minggu (27/3/2022).

Inovasi tersebut dilakukan oleh pemerintah desa dengan menggandeng mahasiswa yang tengah melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) untuk mengemas kegiatan tradisi Megengan agar tampak lebih modern namun tak menghilangkan sedikitpun esensi dan nilai dari tradisi Megengan itu sendiri.

Tidak hanya sebatas digelar di masjid, namun tradisi Megengan ini bahkan memiliki konsep panggung budaya dengan menggelar beberapa lomba seperti lomba mewarnai wayang, lomba catur, lomba dolanan tradisional, konservasi belut dan juga jamasan.

Untuk memeriahkannya, acara yang turut dihadiri oleh beberapa pejabat daerah ini juga menggelar beberapa kesenian lokal seperti halnya tari-tarian, pagelaran wayang, sarasehan budaya dan ditutup dengan doa bersama. Jika dilihat, tradisi Megengan ini memang penuh dengan nilai budaya dan Islam, selain untuk menyambut bulan Ramadhan, tetapi juga dalam rangka menjaga budaya dari para leluhur.

Kepala Desa Jajar Imam Mukaryanto mengatakan kegiatan ini sebagai bentuk persiapan kita untuk menyambut datangnya bulan ramadhan. Meski dipersiapkan dengan waktu yang cukup singkat tapi semoga semuanya senang. “Ini kearifan lokal masyarakat desa kamil,” katanya.

Dia menuturkan, kegiatan Megengan Show telah berjalan selama beberapa tahun. Saat pandemi sudah mulai melandai kini gelaran Megengan Show bisa terlaksana dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat, apalagi masyarakat juga telah divaksin lengkap. “Dengan kegiatan seperti ini semoga membawa manfaat bagi masyarakat,” terangnya.

Sementara, Bupati Trenggalek yang akrab disapa Mas Ipin mengatakan kegiatan megengan dengan inovasi yang menarik ini semoga bisa terus digelar tiap tahunnya. Menurut dia, ini menjadi penting karena melestarikan budaya. “Ini adalah bentuk kebahagian kita untuk menyambut bulan ramadhan. Mari kita istiqomah melestarikan tradisi ini,” terangnya.

Sementara itu, KH Teguh, pengasuh Ma’had Al-Jamiah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menyampaikan banyak hal bahwa budaya jawa yang telah diwariskan oleh nenek moyang ini perlu terus diuri uri. Menurutnya, ada banyak hal dalam Islam yang memiliki irisan dengan budaya jawa. “Seperti kisah wayang yang nantinya akan dipentaskan ini banyak hikmah kehidupan yang bisa kita ambil,” terang dia.

Sejarah Tradisi Megengan

Secara istilah, Megengan sendiri berasal dari bahasa Jawa yang mempunyai makna menahan atau ngempet. Dimana, tradisi ini biasanya digelar dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Selaras dengan definisi Megengan, saat bulan Ramadhan tiba seluruh umat muslim diwajibkan untuk berpuasa dengan menahan rasa lapar dan haus namun yang lebih utama juga menahan untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat menggugurkan berkah dan pahala ibadah puasa tersebut.

Terlebih, agama Islam mengenal salah satu istilah nafsu yakni nafsu mutmainnah yakni nafsu keberagaman atau nafsu etis yang lebih mendasar pada tindakan manusia pada ajaran agama. Dimana, nafsu inilah yang akan menuntun manusia agar tetap berada di jalan yang benar yakni jalan iman dan Islam.

Beberapa tokoh agama bahkan menyarankan umat Islam untuk mengembangkan nafsu mutmainnah-nya agar bahtera kehidupan yang akan di jalani selalu dalam perlindungan Allah SWT serta penuh dengan berkat dan keselamatan. Namun secara garis besar sebenarnya tradisi Megengan di daerah satu dengan daerah lain tidak banyak terdapat perbedaannya. Di beberapa daerah, tradisi Megengan biasanya diawali dengan ziarah kubur terlebih dahulu. Dimana, masyarakat akan berbondong-bondong untuk berziarah selain untuk mengirimkan doa kepada para ahli kubur tetepi juga untuk membersihkan makam.

Lalu, menjelang petang tradisi Megengan akan dilanjutkan dengan mengundang warga sekitar untuk hadir ke masjid atau musholla terdekat dengan membawa ambengan atau nasi berkat yang dibawa masing-masing dari rumah. Mereka akan duduk bersila di atas tikar sambil memanjatkan doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Umumnya, didalam ambengan yang dibawa masing-masing warga itu identik dengan tiga simbol makanan yang cukup sering ditemui pada tradisi Megengan. Tiga simbol makanan itu seperti apem, tebu dan pisang raja, bersama komponen makanan yang lain sebagai pendudung dan lalu di tata pada sebuah wadah plastik. Tidak hanya identik dengan tiga jenis komponen makanan, tetapi tradisi ini juga identik dengan tiga kegiatan yang tidak boleh dilewatkan. Tiga kegiatan itu diawali dengan membersihkan makam leluhur, memasak makanan yang biasanya dikenal dengan sebutan apem lalu ditutup dengan acara selametan.

Konon, tradisi Megengan ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga yang merujuk dari beberapa akulturasi budaya antara Islam dan Jawa yang memang kerapkali di sangkutpautkan dengan pemikiran sang wali Allah tersebut. Meskipun begitu, belum ada bukti historis yang nyata bahwa tradisi Megengan merupakan warisan dari Sunan Kalijaga.

Ambengan merupakan bagian dari tradisi Megengan /Foto: Istimewa

Makna yang Tersiman di Balik Ambengan

Dalam jurnal yang berjudul “Megengan : Tradisi Masyarakat dalam Menyambut Ramadhan di Desa Boro Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung” (2017) yang disusun oleh Heru Budiono dan Sigit Widiatmoko ini menjelaskan bahwa tradisi Megengan biasanya dikemas dengan metode selametan yang tak lain merupakan metode turun temurun yang dilaksanakan dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Tradisi Megengan memang sangat identik dengan kue apem, kue ini juga sering dijadikan sebagai lambang kesucian, karena bentuk dan warna kue apem yang putih nan bersih. Bahkan, bisa dikenali bahwa kue apem hanya bisa ditemui pada tradisi Megengan.

Jika berbicara tentang kue apem mungkin tidak ada habisnya, makanan ringan yang juga dikenal sebagai jajanan pasar ini ternyata memiliki nilai dan sejarah tersendiri. Banyak masyarakat menilai bahwa kata apem berasal dari bahasa Arab yakni afwan yang berarti ampunan atau maaf.

Saat tradisi Megengan digelar, kue apem ini seringkali diibaratkan sebagai simbol untuk memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala perbuatan yang dilakukan selama satu tahun ke belakang. Dengan begitu masyarakat diharapkan dapat memetik nilai luhur dari kue yang berbahan dasar tepung beras ini.

Namun, tidak hanya kue apem yang mewarnai ambengan yang dibawa oleh warga ke masjid terdekat, tetapi didalam ambengan itu juga terdapat beberapa makanan yang wajib disajikan diantaranya seperti nasi gurih, ingkung atau ayam lodho bumbu kuning, sambal goreng, ketimun, kacang goreng, serundeng atau parutan kelapa yang digoreng, serta kacang panjang.

Beberapa elemen makanan itu disajikan bukan tanpa maksud, satu per satu elemen makanan dipercaya mempunyai makna yang tersembunyi. Tentunya, makna-makna tersebut tak bisa lepas dari nilai yang bisa diterapkan untuk menjalani kehidupan.

Seperti halnya kue apem yang dinilai sebagai lambang kesucian karena berwarna putih, begitupun juga pisang raja yang melambangkan suatu kehormatan kepada semesta dan sebagai pengingat bahwa manusia harus taat serta selalu berusaha memperbaiki diri.

Selain itu, juga ada nasi gurih yang dimasak bersama santan dan garam hingga mengahsilkan rasa rasa yang berbeda ini memiliki makna untuk mengirim doa kepada Nabi Muhammad SAW. Pasalnya, pada zaman dahulu, Nabi Muhammad SAW konon dipercaya mengonsumsi makanan nasi suci atau nasi Wudlu.

Ada juga ingkung, istilah yang digunakan untuk ayam yang dimasak secara utuh. Ayam yang sebelumnya ini sudah dibersihkan kemudian di sajikan dengan diikat rapi. Itulah mengapa disebut dengan ingkung, karena diingkung berarti ayam yang di tali. Selain sebagai lambang ibadah, ingkung ini juga dimaknai sebagai “manembaho ingkang linangkung” yang berarti manusia dalam beribadah kepada Allah SWT sebaiknya disegerakan dan tidak ditunda-tunda, beribadah secara khusyuk seakan-akan akan mati esok hari.

Lebih dari itu, ayam yang ditali menggambarkan bahwa akhlak dan perilaku manusia hendaknya mampu mengendalikan nafsunya agar tidak berlebihan dan menjadi ambisius dalam berbagai bidang kehidupan apalagi mengejar kesenangan duniawi yang sementara.

Elemen makanan selanjutnya adalah kacang panjang, lebih tepatnya dua irisan kacang panjang ini seolah mengingatkan bahwa manusia semestinya harus berfikir panjang setiap saat akan memutuskan segala sesuatu.

Lebih dikenal dengan istilah “nalar kang mulur”, jangan hanya memikirkan pikiran yang picik dan licik. Sebagai umat manusia yang beragama seyogyanya harus memiliki pikiran yang positif, selalu menimbang dampak baik dan dampak buruk sebelum bertindak sehingga nantinya bisa menanggapi segala hal dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.

Ambengan tak lengkap rasanya apabila tak ada sambal goreng. Memang begitulah keberadaan sambal goreng dianggap penting karena melambangkan bermacam-macam manusia yang pastinya memiliki kesulitan dan masalah sendiri-sendiri. Hal itu mengingatkan untuk tidak saling menjatuhkan dan iri hati, namun harus selalu berpegangan satu sama lain.

Selanjutnya, ada serundeng atau parutan yang digoreng hingga berwarna kecoklatan. Memiliki rasa yang khas, aroma serundeng ini bahkan dipercaya sangat menyengat sampai ke akhirat. Konon, aroma itulah yang mengundang para arwah leluhur untuk datang ke acara selamaten.

Yang terakhir, elemen makanan ini tentunya tidak bleh dilewatkan dalam tradisi Megengan apalagi kalau bukan kacang goreng. Kacang goreng ini melambangkan bentuk dari pikiran-pikiran manusia yang berbeda, namun saat ada masalah bisa diselesaikan bersama-sama tanpa harus ada perselisihan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: