Masjid Kuno At-Taqwa Magetan, Saksi Sejarah Napak Tilas Prajurit Pangeran Diponegoro

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Masjid At-Taqwa
Masjid At-Taqwa, Godegan, Desa Tamanarum, Kecamatan Parang, sudah berdiri sejak 1840/ Foto: Radar Magetan

Santrikertonyono -Jika dilihat sekilas, Masjid At-Taqwa tak ubahnya masjid-masjid kuno pada umumnya dengan design arsitektur yang sederhana dan tidak terlalu luas. namun, dibalik kesederhanaannya itu pula tersimpan sejarah yang begitu panjang dari kisah-kisah para tokoh Islam yang berjasa dalam proses pembangunan masjid ini.

Masjid yang berdiri di Dusun Godekan, Desa Tamanarum, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan ini mempunyai ciri khas yang menarik hampir disetiap sisi bangunan maupun fungsinya. Misalnya saja dari segi bangunan, masjid tersebut hampir mirip dengan salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, yakni Masjid Pathok Negoro yang kental akan seni arsitektur Jawa.

Sementara dari fungsinya sendiri, masjid ini bak memberikan wadah bagi masyarakat dalam melaksanakan kegiatan tradisi-tradisi Islam yang sebelumnya telah diwariskan oleh para leluhur. Tradisi tersebut seperti ngepung ambeng, muludan, puluran, dan yang lainnya.

Seiring berjalannya waktu, renovasi kecil dilakukan di beberapa bagian masjid tanpa mengubah unsur keaslian dari masjid itu sendiri. Masjid yang hingga kini masih berdiri kokoh tersebut juga mengalami perkembangan secara fungsi, dimana terdapat perubahan kehidupan masyarakat yang menetap di sekitar masjid. Seperti perubahan dalam hal keagamaan, pendidikan, ekonomi, hingga sosial budaya.

Kini, Masjid At-Taqwa tak hanya terbatas untuk menggelar kegiatan-kegiatan tradisi Islam, namun lebih dari itu juga dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan ilmu agam dan syiar Islam sekaligus tempat ibadah bagi masyarakat muslim di Magetan.

Masjid At-Taqwa juga dikenal dengan nama lain yakni Masjid Godhegan ini juga banyak menyimpan kitab Al-Quran dan tafsir Al-Quran kuno yang ditulis dengan tangan. Untuk menjaga dari resiko termakan rayap atau bahkan rusak, pihak pengurus masjid membungkusnya dengan kertas tebal dan disimpan pada lemari khusus agar terjaga keamanannya.

Kitab-kitab tersebut diduga kuat mengandung cerita bersejarah baik kisah tentang penyebaran agama Islam di wilayah Parang maupun di Magetan. Bahkan, beberapa diantaranya sudah sempat disalin oleh kelompok dari Yogyakarta guna kepentingan pelestarian peninggalan sejarah dan budaya.

Masjid yang seluruh konstruksinya menggunakan kayu jati tersebut masih berdiri kokoh dengan elemen bangunan yang sangat layak. Masyarakat pun juga mempusatkan seluruh aktivitas ibadah di masjid ini, terutama ibadah sholat secara berjamaah.

Jejak Sejarah Prajurit Pangeran Diponegoro

Informasi tentang pembangunan masjid ini pun juga tak banyak beredar, mulai dari deskripsi hingga gambaran sejarahnya. Lebih dari itu, alasan titik lokasi yang digunakan untuk membangun masjid belum juga terungkap hingga sekarang. Namun, banyak masyarakat Magetan yang mempercayai bahwa masjid ini berdiri pada tahun 1840, tepat setelah perang Diponegoro usai.

Beberapa sumber banyak yang menyebutkan tentang asal usul masjid ini, konon Masjid At-Taqwa merupakan salah satu masjid yang dibangun oleh dua prajurit Pangeran Diponegoro yang kala itu ikut serta dalam Perang Jawa Brang Wetan meliputi wilayah Sragen hingga Pacitan.

Dua tokoh Islam prajurit Diponegoro itu adalah Kiai H. Imam Nawawi dan Kiai Mustarim, yang kini makam keduanya berada tak jauh dari masjid tersebut. Konon, singgahnya dua tokoh Islam ini ke wilayah Magetan karena tengah lari dari pengejaran Belanda menuju arah timur dari lereng Gunung Lawu.

Pendirian masjid ini pun juga erat kaitannya dengan upaya menyebarkan ajaran agama Islam. Mengingat, pada waktu itu banyak masyarakat setempat yang masih menganut keyakinan animisme dan dinamisme. Pendekatan untuk memperkenalkan Islam salah satunya adalah dengan mendirikan masjid yang diisi dengan ibadah dan kegiatan-kegiatan keagamaan dengan unsur budaya yang cukup kental.

Kedua tokoh ini konon juga berasal dari keluarga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang ikut mengungsi ke daerah timur karena peristiwa geger pecinan. Tak hanya membangun masjid, banyak yang mengatakan bahwa keluarga keraton juga membangun pondok pesantren.

Kala itu, para pengikut pangeran Diponegoro memang sengaja memberikan tanda khusus di depan rumah mereka masing-masing. Misalnya, dengan menanam pohon sawo kecik dan beberapa tanaman yang lain. Tak terkecuali, Masjid At-Taqwa yang juga sama-sama memiliki pohon sawo kecik.

Selain itu, penggunaan kayu jati sebagai bahan utama dalam membangun masjid juga dibuat bukan tanpa alasan. Hal itu dilakukan karena pada zaman dahulu wilayah tersebut merupakan hutan jati yang sangat lebat. Jadi, hal yang wajar apabila masjid At-Taqwa ini didominasi dengan arsitektur yang berbahan kayu jati.

Sebelum dilakukan pemugaran, tak ada sudut masjid yang yang tidak menggunakan kayu jati. Mulai dari lantai, dinding hingga atap semuanya rata menggunakan kayu yang terkenal memiliki kualitas tinggi ini. Namun, karena rusak dimakan usia akhirnya pemerintah setempat melakukan renovasi dibagian lantai dengan diganti keramik.

Renovasi yang dilakukan pun juga tak merubah bentuk aslinya, banyak bagian-bagian masjid yang tetap dipertahankan dan bahkan mendapatkan perawatan yang cukup intens. Renovasi lantai yang dilakukan juga semata-mata untuk menjaga bangunan agar tetap kokoh dan terawat.

Kitab-kitab yang hingga kini tersimpan dan tersusun rapi di dalam lemari kaca Masjid At-Taqwa sedikit banyak juga merupakan hasil tulisan dari Kiai H. Imam Nawawi dan Kiai Mustarim. Uniknya, beberapa kitab tersebut bukan ditulis diatas kertas melainkan di atas kulit lembu.

Tulisan yang dibuat cenderung tipis, bahkan terkesan digores dengan sesuatu yang panas hingga terbentuk sebuah tulisan. Namun, hingga kini ada beberapa kitab yang isi dan tulisannya belum diketahui membahas tentang perihal apa. Pasalnya, butuh observasi lebih lanjut untuk melakukan penelitian mendalam terhadap kitab-kitab kuno yang pastinya banyak menyimpan kisah bersejarah atau mungkin ilmu tentang agama Islam.

Secara umum, area Masjid At-Taqwa memiliki kolam kuno yang juga difungsikan sebagai tempat berwudhu. Perihal pohon sawo kecik, masyarakat sekitar mengakui bahwa dulu ada kurang lebih 10 pohon sawo kecik yang tumbuh besar mengelilingi masjid, namun sekarang hanya menyisakan beberapa pohon saja.

Sama halnya dengan masjid-masjid pada umumnya, Masjid At-Taqwa juga memiliki kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan salah satunya tadarus Al-Quran. Apalagi, sejak pertama kali berdiri, masjid ini telah menjadi pusat kegiatan religi warga setempat yang tinggal tak jauh dari masjid.

Salah satunya yakni kegiatan yang digelar pada malam-malam ganjil di bulan Ramadhan yang berkhalwat di masjid kuno At-Taqwa. Tak hanya dari dalam kota, beberapa diantaranya ada yang berasal dari luar daerah semata-mata untuk mengantarkan niatnya dalam beribadah.

Detail Bangunan dan Konstruksi Atap Lidah Api

Secara nampak mata, bangunan masjid ini memang tidak terlalu luas, berdiri di atas tanah wakaf seluas 600 meter persegi dengan serambi beton yang berada di sisi timur bangunan dengan ukuran 12,5 meter x 6,3 meter dan atapnya memiliki bentuk limasan dari genteng.

Tepat di bagian depan serambi terdapat tiga buah anak tangga yang memanjang. Nampak juga empat buah pintu, yang masing-masing ketiga pintunya untuk masuk ke serambi dan satu pintu di sebelah kanan untuk masuk ke ruangan pawestren. Keseluruhan dari pintu tersebut memiliki dua buah daun pintu dari besi dengan bagian atas pintu yang melengkung.

Tiga buah pintu yang terletak di ruangan dalam serambi dipergunakan untuk masuk ke ruang utama masjid. Dimana, ruangan utama ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 7,75 meter x 7,75 meter. Lantai ruangan terbuat dari ubin sedangkan temboknya sebagian terbuat dari tembok dan sisanya menggunakan papan kayu.

Konstruksi unik terdapat di bagian atap Masjid At-Taqwa, dimana konstruksi atapnya berbentuk tumpang dua yang terbuat dari genteng. Ketinggiannya pun mencapai 8,65 meter. Dan jika diperhatikan dengan detail, pada puncak atapnya terdapat hiasan berbentuk lidah api.

Jika masuk lebih dalam, ruangan utama ini memiliki empat buah tiang penyangga dari kayu berbentuk persegi, tepat terletak di atas umpak batu dengan tinggi dari lantai kurang lebih 3,35 meter. Pada dinding di sisi utara terdapat pintu masuk dan dua buah jendela tanpa daun pintu lengkap dengan pengaman jeruji kayu.

Jendela denga jeruji kayu juga nampak di sisi barat bangunan masjid, tepatnya sebelah kanan dan kiri mihrab. Kemudian pada bagian dinding sebelah selatan juga terdapat sebuah pintu Masjid Kuno At-Taqwa Magetan, Saksi Sejarah Napak Tilas Prajurit Pangeran Diponegoro untuk menuju ke pawestren.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: