Masjid Agung Gedhe Kauman, Destinasi Wisata Penuh Sarat Nilai Sejarah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Barat Alun-Alun Keraton, Jl. Kauman, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta /Foto: aroengbinang.com

Tidak habis rasanya jika membahas tentang keindahan dan keanggunan kota Yogyakarta. Salah satu kota besar di Indonesia ini memiliki magnet tersendiri yang bisa menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung. Selain terkenal dengan penduduknya yang ramah, kota Yogyakarta juga berhasil mempertahankan ciri khasnya sebagai kota dengan konsep tradisional dan budaya jawa.

Kota yang menjadi kediaman Sultan Hamengkubuwana dan Adipati Paku Alam tersebut bahkan juga pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia pada tahun 1946. Karena kentalnya unsur budaya Jawa, setiap sudut tempat atau jalan di kota Yogyakarta penuh dengan cerita sejarah. Beberapa tempat masih mempertahankan arsitektur aslinya, perawatan dan tidak merubah setiap detail bangunan menjadi magnet bagi pelancong untuk sekedar berswafoto atau mempelajari sejarahnya.

Salah satu tempat wisata, juga merupakan icon kota Yogyakarta yang hingga saat ini masih berdiri kokoh adalah Masjid Agung Gedhe Kauman. Masjid Gedhe Kauman atau yang biasa disebut Masjid Gedhé Kauman Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan masjid raya milik Kesultanan Yogyakarta dan terletak persis di sebelah barat kompleks Alun-Alun Utara Yogyakarta. Keberadaan masjid ini juga menegaskan keberadaan kota Yogyakarta sebagai Kerajaan Islam.

Masjid tersebut dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat yang tak lain merupakan penghulu kraton pertama serta Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Saat proses pembangunan masjid ini ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi Gapura Trus Winayang Jalma Sengkalan. Hal itu tertulis jelas pada prasasti di serambi masjid.

Bila dilihat, Masjid Gedhe Kauman ini menggunakan gaya arsitektur tajug lambang teplok yakni mewarisi gaya Masjid Demak. Gaya arsitektur tersebut identik dengan keberadaan empat pilar utama atau bisa dikenal dengan sebutan saka guru ditambah dengan atap yang berbentuk tajug lambang teplok. Tajug lambang teplok sendiri merupakan sebuah bentuk atap yang bersusun tiga.

Secara filosofis, tiga tingkatan pada atap itu menggambarkan tahapan-tahapan dalam memakai ilmu tasawuf, masing-masing yakni syari’at, thareqat, dan ma’rifat. Selain itu, tiga tingkatan pada atap juga dimaknai sebagai iman, Islam, dan ikhsan. Bangunan masjid ini dikelilingi oleh dinding yang cukup tinggi, dimana terdapat pintu utama kompleks yang berada di sisi timur dengan kontruksi semar tinandu.

Memasuki area dalam masjid, terdapat mimbar bertingkat tiga yang terbuat dari kayu, mihrab atau tempat imam memimpin ibadah, dan maksura yang merupakan bangunan mirip sangkar di sisi dalam bagian barat. Diketahui, pada zaman dahulu, maksura ini digunakan oleh sultan saat melakukan ibadah demi alasan keamanan.

Masjid Gedhe Kauman ini juga memiliki 16 sisi dengan 3 tingkat pada atapnya serta ditopang sebanyak 48 pilar yang berada di dalam bangunan masjid. Untuk menunjukkan kesultanan masjid ini, terdapat hiasan mahkota berbentuk yang berada di puncak atap masjid yang biasa disebut mustaka. Pada hakikatnya, mustaka yang berada di puncak atap masjid milik sultan ini merupakan stirilisasi dari bentuk gada, daun kluwih, dan daun bunga gambir.

Dalam artian gada memiliki makna melambangkan keesaan Allah SWT, daun kluwih mengarah pada kata linuwih atau lebih dengan makna manusia akan memiliki suatu kelebihan apabila dirinya sudah berhasil melewati tiga tahapan ilmu tasawuf, dan yang terakhir yakni bunga gambir yang menggambarkan arum angambar atau keharuman yang menebar.

Dahulu, masjid ini digunakan sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan atau berkaitan dengan hukum Islam terutama permasalahan terkait perkara perdata pada masa awal Kesultanan Yogyakarta. Penghulu keraton tak lain juga merupakan pimpinan pengurus masjid yang berada di dalam struktur Abdi Dalem Pamethakan. Diketahui, Raden Ngabei Ngabdul Darwis atau yang biasa dikenal Kyai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah merupakan salah satu Abdi Dalem penghulu keraton yang pernah bertugas di masjid tersebut.

Masjid ini kerapkali disebut sebagai tempat pengadilan agama, hal itu dikarenakan di serambi masjid yang dikenal dengan istilah Al Mahkamah Al Kabirah ini dipergunakan untuk prosesi penyelesaian hukum. Fungsi lain dari tempat ini yakni sebagai tempat pertemuan para alim ulama, pengajian dakwah I slamiyah dan peringatan hari besar.

Tepatnya pada tahun 1840, regol atau pintu gerbang masjid mulai dibangun dengan bentuk Semar Tinandhu dan diberi nama Gapuro. Menurut istilah, Gapuro berasal dari kata ghofuro yang bermakna ampunan dari dosa-dosa. Semar Tinandhu sendiri melambangkan sosok tauladan yang mengasuh para ksatria dan raja hingga dirinya layak mendapat penghargaan yang tinggi.

Namun naas, pada tahun 1817 kota Yogyakarta diguncang gempa besar yang ikut meruntuhkan regol dan serambi masjid. Bencana gempa tersebut bahkan juga memakan korban jiwa, salah satunya yakni Kyai Penghulu yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan.

Mengetahui hal tersebut, Sri Sultan Hamengk Buwono VI memberikan Kagungan Dalem Surambi Munara Agung yakni material yang nantinya bisa dipergunakan untuk membangun Pagelaran Keraton dialihkan untuk pembangunan kembali serambi Masjid Gedhe. Dua tahun kemudian, Regol kembali dibangun dengan ditandai Candra Sengkala yang berbunyi Murti Trus Giri Narpati.

Setelah peristiwa tersebut, kurang lebih sudah 3 kali masjid ini dilakukan renovasi. Selain untuk menjaga kekokohan bangunannya tetapi juga untuk mempertahankan nilai sejarah agar abadi untuk para generasi muda sebagai bahan pengingat dan belajar. Masing-masing renovasi itu dilakukan pada tahun 1917 dengan dibangunnya Pajagan atau gardu penjaga tepat di sisi kanan dan kiri regol.

Lalu, atas prakarsa dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1933, atas masjid dirombak. Perombakan tersebut dengan mengganti kayu yang sudah lapuk dengan seng wiron atau seng bergelombang serta lantai serambi yang awalnya menggunakan batu kali diganti dengan tegel kembang. Renovasi dilanjutkan dengan mengganti lantai batu kali di ruang sholat utama menjadi marmer dari Italia pada tahun 1936.

Tak bisa dipungkiri, keberadaan Masjid Gedhe tak bisa dipisahkan dengan Keraton Yogyakarta. Hal tersebut dibuktikan dengan bangunan Pajagan yang pernah digunakan sebagai markas Asykar Perang Sabil, dimana Pajagan ini berfungsi untuk membantu Tentara Nasional Indonesia melawan agresi militer Belanda saat masa-masa memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, pahlawan-pahlawan yang gugur pada masa itu dimakamkan di sebelah berat dari Masjid Gedhe.

Lebih dari itu, Masjid Gedhe juga pernah dipergunakan sebagai sarana perjuangan, seperti halnya Komponen Angkatan ’66 saat menumbangkan Orde Lama dan pejuang reformasi dalam menumbangkan Order Baru.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: