Lewat Nada Gembira, Syiar Nasida Ria Melintas Batas Zaman

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
nasida
Personil Nasida Ria /Foto : qasidahinbox.blogspot.com

Lagu-lagu bernuansa Islami macam “Perdamaian”, “Kota Santri”, “Jilbab Putih”, dan lainnya terdengar akrab bagi umat Islam di tanah air, terutama setiap bulan Ramadan. Grup musik yang membawakan dan mempopulerkan tembang-tembang legendaris itu adalah Nasida Ria yang seluruh personilnya adalah kaum perempuan.

Dibentuk tahun 1975 di Semarang, Jawa Tengah, Nasida Ria generasi pertama terdiri dari 9 orang muslimah. Ziauddin Sardar dan Robin Yassin Kassab dalam Muslim Archipelago (2013) menyebutkan, Nasida Ria mengusung musik kasidah dengan gaya timur tengah dan sudah menggunakan alat-alat musik modern.

Maka, tulis Ida Nursanti lewat artikelnya bertajuk “Grup Kasidah Nasida Ria Tetap Eksis” yang dimuat dalam surat kabar Suara Merdeka (20 Agustus 2004), Nasida Ria merupakan salah satu kelompok kasidah modern tertua di Indonesia. Bahkan sampai kini, Nasida Ria seolah tak terganti. Tidak banyak grup musik perempuan beraliran kasidah yang mampu melambung tinggi seperti Nasida Ria.

Gebrakan Para Musisi-Muslimah Nasida Ria

Penggagas dibentuknya Nasida Ria adalah seorang guru qiraat bernama H. Mudrikah Zain. Dengan pengalaman pernah mencicipi ranah seni bersama grup musik bernama Assabab, pada 1975 ia mengumpulkan 9 orang siswinya untuk membentuk kelompok musik kasidah.

Kesembilan anak didik H. Mudrikah Zain ini masing-masing bernama Mudrikah Zain, Mutoharoh, Rien Jamain, Umi Kholifah, Musyarofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah, dan Nur Ain. Mereka inilah generasi pertama Nasida Ria yang saat ini sudah memasuki generasi ketiga.

Misi dibentuknya grup ini memang untuk menyampaikan dakwah Islam dengan cara yang lebih menyenangkan, yakni melalui lagu-lagu bernada gembira. Itulah alasan disematkannya nama Nasida Ria untuk kelompok kasidah ini.
“Berawal dari kata nasyid dan ria. Nasyid sendiri berarti lagu-lagu, adalah lagu atau nyanyian yang membawakan kesenangan atau kegembiraan,” ungkap Choliq Zain, manajer Nasida Ria saat ini, dalam wawancara dengan whiteboardjournal.com pada 2018 lalu.

“Nasida Ria ingin menyampaikan dakwah melalui syair dan musiknya,” lanjutnya.
Laiknya grup kasidah, Nasida Ria di masa awal hanya berbekal rebana sebagai alat musik pengiringnya. Grup yang beranggotakan kaum hawa ini langsung mencuri perhatian, termasuk menarik atensi Wali Kota Semarang saat itu, Iman Soeparto Tjakrajoeda.

Sang wali kota kemudian menyumbang organ elektronik untuk Nasida Ria. Pamor grup ini kian melambung dan kerap diundang ke luar kota. Hingga akhirnya, Nasida Ria benar-benar menjadi grup musik kasidah modern seiring bertambah lengkapnya instrumen yang digunakan, seperti gitar, bas, hingga biola.

Regenerasi dan Kebangkitan Nasida Ria

Nasida Ria membawakan banyak sekali tembang yang melegenda. Lagu-lagu mereka bahkan masih terkenang hingga kini lantaran kerap diputar di radio, televisi, maupun melalui corong masjid setiap kali acara keagamaan seperti pengajian, juga selama bulan puasa.

Dakwah lewat nada yang disampaikan Nasida Ria pada akhirnya tidak hanya berkutat soal agama, tapi juga mencakup sendi-sendi kehidupan manusia lainnya, seperti kemanusiaan, keluarga, lingkungan, sosial, ekonomi, bahkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain menciptakan lagu sendiri, sebagian tembang yang dibawakan dan dipopulerkan Nasida Ria merupakan hasil karya para ulama yang juga menguasai berbagai bidang keilmuan umum. Maka, tak heran jika tema tembang-tembang Nasida Ria selalu mengikuti perkembangan zaman.

Pencipta lagu “Perdamaian”, misalnya, K.H. Ahmad Buchori Masruri, merupakan sosok kiai yang pernah menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah dan memahami ilmu teknologi serta situasi dunia internasional.

Pamor Nasida Ria amat sohor pada dekade 1980 hingga menjelang milenium baru atau era 2000-an. Grup ini sempat tak terdengar kabarnya di tengah industri musik yang dikuasai genre-genre yang lebih populer. Namun, Nasida Ria tak pernah vakum, hanya kurang publikasi saja.

Sejak 2016 lalu, Nasida Ria mulai bangkit bahkan merambah ke pangsa milenial. Mereka kerap diundang ke acara-acara musik yang lebih populis, macam RRREC Fest 2016, Holy Market 2017, juga Syncronize Fest 2018 dan 2019. Alhasil, Nasida Ria semakin dikenal oleh kawula muda kekinian.

Nasida Ria mampu bertahan karena regenerasi yang terbilang sukses. Nadia Ria saat ini diawaki oleh 12 orang personel yang merupakan generasi ketiga. Menurut sang manajer Choliq Zain, untuk bergabung dengan Nasida Ria setidaknya bisa melantunkan ayat-ayat Alquran.

“Tidak harus bisa main alat musik karena nantinya ada pembagian peran sendiri-sendiri dan dilatih dari dasar, tetapi setidaknya bisa nyanyi atau qiroah sih. Dan kami lebih mengutamakan mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu agar bisa sekaligus saling membantu juga,” tutur Choliq Zain kepada whiteboardjournal.com.

Dari tahun 1978, Nasida Ria sudah menelurkan 36 album rekaman yang menghimpun ratusan lagu. Album terbaru mereka adalah Kebaikan Tanpa Sekat yang dirilis tahun 2020, selain mengeluarkan sejumlah single termasuk lagu teranyar berjudul Selamat Jalan pada 2021 lalu.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: