Legenda Pintu Bledeg Peninggalan Kerajaan Demak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Pintu bledeg di Masjid Demak /Foto: Sejarahkerajaandemaklengkap.blogsopt.com

Berbicara tentang keindahan Masjid Demak memang tidak ada habisnya, masjid yang selalu menjadi magnet bagi masyarakat sekitar maupaun bagi pelancong dari luar daerah ini bahkan dikenal sebagai tempat berkumpulnya para Wali Songo yang kala itu berperan dalam menyebarkan syiar Islam di tanah Jawa.

Menurut artikel yang dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Demak, pembangunan masjid ini dilakukan oleh raja pertama Demak, Raden Patah dengan dibantu para Wali Songo pada abad ke-15 tepat setelah keruntuhan Kerajaan Majapahit. Dimana, masjid Agung Demak kini menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia.

Masjid yang sangat populer di kota Demak ini telah menjadi objek wisata serta situs ziarah bagi para wisatawan yang berkunjung. Tak sulit menemukan lokasi dari masjid ini, pasalnya masjid Demak tepat berada di Kampung Kauman Kelurahan Bintoro Kabupaten Demak.

Selain itu, masjid yang mengambil gaya arsitektur tajug tumpang tiga tersebut tak lepas dari cerita sejarah perjalanan syiar Islam di tanah Jawa.

Menilik beberapa bagian pada masjid Demak ini juga penuh dengan unsur sejarah. Salah satunya yang begitu fenomenal adalah pintu bledeg masjid Demak yang secara material terbuat dari kayu jati dengan dihiasi berbagai ornamen cantik berbentuk dua kepala naga. Konon, menurut cerita yang beredar di masyarakat pintu tersebut merupakan gambar petir yang ditangkap langsung oleh Ki Ageng Selo.

Dalam kitab Babad Tanah Jawi dijelaskan, Ki Ageng Selo adalah keturunan Raja Majapahit, Brawijaya V. Lalu, pernikahan Brawijaya V dengan putri Wandan Kuning melahirkan seorang anak bernama Bondan Kejawen atau bisa dikenal dengan Lembu Peteng. Lembu Peteng inilah yang menikahi Dewi Nawangsih yang tak lain adalah putri Ki Ageng Tarub dan menurunkan Ki Ageng Getas Pendawa.

Dari Ki Ageng Getas Pendawa inilah lahir seorang anak yang bernama Bogus Sogom alias Syekh Abdurrahman alias Ki Ageng Selo. Kini makam Ki Ageng Selo bisa bisa dikunjungi di daerah Desa Trawang, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Semasa hidupnya, Ki Ageng Selo sendiri merupakan orang yang memiliki kesaktian bisa menangkap petir.

Kisah itu bermula saat Ki Ageng Selo pergi ke tengah sawah yang terbentang luas. namun tiba-tiba, cuaca yang awalnya cerah dengan sinar matahari yang hangat berubah menjadi mendung gelap gulita dan turun hujan deras.

Karena hujan yang cukup lebat, Ki Ageng Selo menghentikan pekerjaannya lalu bergumam “sawah iki kemendungan”. Ki Ageng Selo bergumam seperti itu karena hanya sawah yang ia kerjakan yang diterpa hujan deras, sedangkan sawah di sekitarnya sama sekali tidak mendung dan tidak diterjang hujan deras. Maka, Ki Ageng Selo melanjutkan pekerjaannya di sawah yang tidak terkena terpaan hujan tersebut.

Namun, saat Ki Ageng Selo berpindah ke sawah lain, ternyata awan mendung dan hujan tersebut mengikuti kemana Ki Ageng Selo bekerja. Tak berselang lama terjadilah pertempuran antara Ki Ageng Selo dengan petir yang terus mengancam dan seakan-akan tengah menyambar kepala Ki Ageng Selo itu. Tak tinggal diam, Ki Ageng Selo pun berdiri tegak di tengah sawah sambil mengacungkan tangannya ke petir seperti sedang melawan petir tersebut.

Petir semakin mengamuk, Ki Ageng Selo tetap gagah melawan petir yang semakin tidak terkendali itu. Beberapa murid Ki Ageng Selo menjadi saksi bagaimana kedahsyatan petir tersebut menyambar tubuh Ki Ageng Selo.

Mereka berfikir Ki Ageng Selo tidak akan selamat, tubuhnya mungkin saja hancur karena tersambar petir tersebut. Namun dugaan mereka salah, Ki Ageng Selo berhasil menjinakkan petir itu, tubuhnya tidak terluka sedikitpun, bahkan badannya masih berdiri tegap di tengah sawah. Nampak Ki Ageng Selo mengikatkan sesuatu yang sangat besar dengan menggunakan damen atau gagang padi kering ke pohon Gandri.

Bledeg yang berhasil ditangkap oleh Ki Ageng Selo ini lalu diperlihatkan kepada Raden Patah dan Wali Songo. Mengetahui hal tersebut, Raden Patah lekas memberikan perintah kepada seorang pelukis untuk menggambarkan bledeg tersebut. Menggambar bledeg bukan perkara mudah, si pelukis mengalami kesulitan selama melukis bledeg itu. Kesulitaan-kesulitan itu dialami si pelukis karena bledeg selalu menampakkan wujud dan bentuk yang berbeda setiap harinya.

Konon menurut cerita, saat si pelukis berhasil menyelesaikan lukisan bledeg pada bagian kepalanya, tiba-tiba muncul seorang perempuan tua yang membawa tempurung kelapa beserta air kelapanya. Dan menyiram air kelapa yang ia bawa tepat ke arah bledeg tersebut. Seketika, meledakklah bledeg itu bersamaan dengan perempuan tua yang tiab-tiba berubah wujud menjadi seseorang yang memakai jubah putih dan menghilang begitu saja.

Menurut kisah yang beredar, seseorang berjubah putih itu adalah Ki Ageng Selo sendiri. Meskipun bledeg tersebut telah mengancam nyawanya, namun Ki Ageng Selo tak tega melihat bledeg itu menjadi bahan tontonan warga. Akhirnya, lukisan yang telah selesai pada bagian kepala itulah yang menjadi pintu di masjid Demak kala itu.

Namun, kisah legenda pintu bledeg dipercaya hanya sebuah sanepan atau kiasan. Dimana kiasan tersebut menggambarkan hawa nafsu dan angkara murka yang ada pada setiap manusia. Sehingga sangat dianjurkan sebelum seseorang melaksanakan sholat dan mendekatkan diri pada Illahi hendaknya bisa menghilangkan sifat-sifat jahat dan angkara murka yang telah dilambangkan dengan pintu bledeg tersebut.

Sebagian besar masyarakat Jawa khususnya di pedesaan meyakini mitos apabila mereka dikejutkan dengan suara petir maka mereka akan berdiri tegak dan mengacungkan kepalan tangan ke langit seraya berkata “Gandrik! Aku putune Ki Ageng Selo” yang berarti Gandrik, aku cucunya Ki Ageng Selo, dengan harapan mereka tidak akan tersambar petir.

Kini, pintu kayu jati buatannya tersebut diyakini masyarakat bisa menangkal petir. Itulah alasan kenapa pintu tersebut diberi nama pintu bledeg atau dalam bahasa Indonesia berarti pintu petir. Dengan didominasi warna merah da ukiran dua kepala naga, pintu bledeg ini juga merupakan prasasti Condro Sengkolo yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani.

Diketahui, tulisan tersebut mempunyai arti tahun 1388 saka atau 1466 Masehi yang diprediksi sebagai tahun peletakan batu pertama dari pembangunan masjid Demak.

Dahulu, pintu tersebut memang digunakan sebagai pintu di masjid Demak namun saat ini pintu bledeg tersebut tidak difungsikan lagi dan disimpan di museum masjid Agung Demak.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: