Kisah Kesakralan Tari Pusaka Bhedaya Semang dari Keraton Yogyakarta

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Para penari Bedhaya Semang yang berdandan bak seorang pengantin /Foto: koropak.co.id

santrikertonyonoBagi masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah, istilah Bedhaya memiliki gambaran sebagai kehidupan pada dewa ketika mereka tengah menciptakan tujuh bidadari yang mengelilingi Suralaya. Secara istilah, tari Bedhaya tak lain merupakan tarian yang dibawakan oleh sembilan penari putri.

Sebenarnya, tarian ini konon dibuat pada masa Sultan Agung di Kerajaan Mataram, namun selang beberapa waktu, tepatnya setelah Kasultanan Yogyakarta berdiri, Hamengku Buwana I menciptakan kembali tari Bedhaya yang lantas diberi nama Bedhaya Semang.

Menurut beberapa tokoh, Semang sendiri memiliki arti rasa khawatir, ragu atau was-was. Dimana rasa khawatir ini berkaitan dengan keraguan Ratu Kidul saat bertemu dengan Panembahan Senopati. Selama Panembahan Senopati itu bersemedi, Ratu Kidul lantas mempersembahkan tarian Bedhaya Semang.

Tarian yang kini masih dilestarikan oleh Keraton Yogyakarta ini menampilkan sembilan penari perempuan yang memiliki perannya masing-masing. Meskipun jika dilihat secara sekilas tarian ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tarian tradisional Jawa yang lain.

Kesembilan penari yanh notabene memiliki tugas masing-masing, namun mereka tetap dalam riasan wajah yag sama. Secara tidak langsung hal itu bak melambangkan bahwa setiap orang memanglah terlahir dengan kenampakan wujud dan keadaan yang sama.

Karena peran yang berbeda-beda itulah, dalam pertunjukan tari Bedhaya Semang dipegang oleh sang pemeran utama yakni batak dan endhel. Dua tokoh itu melambangkan sebuah peperangan yang melibatkan antara akal dan pikiran, seperti jiwa dan nafsu manusia.

Namun, kesembilan perempuan ini bukanlah penari biasa. Rata-rata mereka akan dipilih dengan proses seleksi yang cukup ketat. Perempuan inipun juga tak diambil dari luar istana, para penari ini mendapatkan status sebagai pegawai keraton dengan sebutan abdi dalem Bedhaya.

Banyaknya jumlah penari dalam tarian Bedhaya Semang ini sebenarnya adalah sebagai lambang dari arah mata angin, arah kedudukan bintang-bintang atau planet dalam kehidupan alam semesta, serta lambang lubang hawa sebagai perwujudan dari kelengkapan jasmaniah dari manusia.

Dalam babadan hawa sanga, lambang lubang hawa ini meliputi satu lubang mulut, dua lubang hidung, dua lubang mata, dua lubang telinga, satu lubang kemaluan, serta satu lubang dubur. Sementara peran dalam masing-masing penari Bedhaya Semang terdiri dari bathak, endhel, jangga (gulu), apit ngajeng, apit wingking, dhaha, endhel wedalam ngajeng, endhel wedalam wingking, dan buntil.

Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Tari pusaka Bedhaya Semang yang sangat disakralkan oleh keraton ini juga merupakan wujud reaktualisasi hubungan mistis antara keturunan Panembahan Senopati sebagai raja Mataram Islam dengan penguasa Laut Selatan yakni Kanjeng Ratu Kidul.

Sedangkan dilihat dari Babad Nitik, Bedhaya merupakan gubahan dari Kanjeng Ratu Kidul sementara Semang merupakan kata yang diberikan oleh Sultan Agung. Umumnya, tarian Bedhaya Semang ini dipagelarkan saat ada ritual keraton, seperti peristiwa jumenengan.

Tarian Putri Klasik Yogyakarta

Sebagian besar masyarakat Yogyakarta meyakini bahwa tarian ini Bedhaya Semang ini adalah tarian pusaka yang dibawakan sebanyak sembilan orang penari perempuan dan banyak menceritakan tentang kisah-kisah legenda, sejarah ataupun babad.

Jika dipelajari lebih dalam, tarian Bedhaya Semang ini memiliki unsur tari yang halus, luhur, adiluhung, memiliki makna dalam dan sangat indah. Banyak pembelajaran moral dalam tarian ini, dimana para putri dari kesultanan akan dilatih dan ditanamkan pendidikan tentang pentingnya etika, estetika serta kehalusan Budi pekerti. Tak lain sebagai bekal selama hidup di lingkungan istana.

Beberapa literatur sejarah banyak yang mengungkapkan bahwa pada masa Sultan Hamengku Buwana I inilah tarian Bedhaya Semang mulai dibangun dan dianggap sebagai tarian ritual istana. Pasalnya, tarian ini memiliki ketentuan bahkan persyaratan tertentu yang tidak boleh diabaikan selama penyelenggaraan. Dan para penari wajib mengikuti ketentuan tersebut.

Beberapa ketentuan yang memang menjadi landasan wajib sebelum atau saat menari seperti para penari harus dalam keadaan suci atau tidak sedang menstruasi, sebelum mulai pertunjukan penari harus berpuasa, pertunjukan tari hanya boleh dilakukan di tempat yang suci yakni di Bangsal Kencana, harus menyediakan sesaji, memiliki waktu dalam penanggalan Jawa yang tepat, serta ada pemimpin.

Tarian Bedhaya Semang ini tak hanya terlihat begitu khas dengan sembilan penari yang disusun bak keadaan tubuh manusia. Lebih dari itu, tarian ini sangat sakral karena mengambil makna filosofis, sosio religi, etis dan moral, hingga ajaran hidup yang banyak dipandang sebagai sesuatu yang aktual.

tari-Bedhaya-Semang
Potret tari Bedhaya Semang, Yogyakarta (1860) /Foto: id.pinterest.com

Bahkan, saat masa-masa tertentu, nilai-nilai yang dimaksud secara turun temurun telah berevolusi menjadi konsep baku yang lalu menjadi dasar beberapa konsep dari tarian Bedhaya Semang itu sendiri. Beberapa pakar menyebutnya sebagai konsep estetis dan konsep koreografis.

Tarian Bedhaya Semang ini memang dikenal sebagai tarian klasik yang hanya di pagelarkan di Istana Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, diciptakan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dianggap sebagai tarian pusaka nan sakral.

Hal itu bisa terlihat dari awal pertunjukkan hingga akhir yang memperlihatkan para penari akan keluar dari Bangsal Prabayeksa. Diketahui, Bangsal Prabayeksa sendiri merupakan tempat untuk menyimpan pusaka-pusaka keraton yang akan dibawa menuju ke Bangsal Kencono.

Terkait busana yang digunakan, beberapa ahli mengungkapkan bahwa busana yang digunakan penari sifatnya dinamis arti seringkali mengalami perubahan sesuai dengan kehendak Sultan yang sedang memerintah pada masanya.

Sementara, busana yang digunakan para penari Bedhaya Semang pada masa Sultan Hamengku Buwono I tidak diketahui bentuk dan warnanya secara signifikan. Pasalnya, hingga saat ini tidak diketemukan gambar atau dokumen resmi yang menjelaskan tentang atribut pakaian penari Bedhaya Semang.

Barulah pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono V bisa diperoleh dokumentasi berupa gambaran penari Bedhaya Semang secara rinci. Dimana, busana dan tata rias yang digunakan sekilas mirip dengan busana dan tata rias mempelai istana.

Atribut Penari Bedhaya Semang

Cukup banyaknya dokumen atau gambar-gambar penting pada masa Sultan Hamengku Buwono V semakin mempermudah para sejarahwan dan abdi dalem keraton mengulik sejarah pakaian yang dipakai oleh kesembilan penari Bedhaya Semang.

Tak hanya sebagai bukti warisan budaya yang memang harus dan wajib dilestarikan, lebih dari itu dokumen-dokumen tersebut bisa digunakan sebagai tolok ukur bahkan pedoman untuk mengetahui peradaban budaya khususnya di lingkungan keraton.

Kurang lebih busana para penari yang digunakan pada masa Sultan Hamengku Buwono V bisa digambarkan seperti penari menggunakan mekak atau sejenis kemben sebuah kain yang menutup bagian dada dan badan, kain batik dengan motif parang rusak sereden, udher cindhe, slepe dan keris sebagai lambang dari keprabon.

Sementara pada hiasan kepala, kesembilan penari ini menggunakan rambut gelung bokor dengan klewer bunga melati, lalu dikerik dipaes layaknya seorang pegantin perempuan, cundhuk mentul, kelat bahu serta gelang. Dimana, sebagian besar aksen yang dipakai bak menyerupai pengantin istana.

Pada masa berikutnya, tepatnya pada masa kekuasaan Sultan Hamengku Buwono VII, busana dan tata rias yang digunakan para penari masih memiliki kesamaan dengan busana yang digunakan pada masa Sultan Hamengku Buwono VI yakni menggunakan baju tanpa lengan, lalu diberi gombyok, kain sereden, udhet cindhe, hingga sama-sama menggunakan slepe dan keris.

Lalu, pada masa kekuasaan Sultan Hamengku Buwono VIII, pakaian para penari Bedhaya Semang beberapa sudah ada perbedaan dengan masa sebelumnya. Pasalnya, tidak ada kerikan, tetapi berganti dengan menggunakan hiasan kepala yang biasa disebut dengan jamang dan bulu-bulu. Selain itu juga menggunakan kelat bahu, gelang, dan ron kalung sun-sun.

Sementara juga dari Serat Babad Nut Semang Bedhaya yang tak lain merupakan acuan dalam memberikan iring-iringan tari. Perpaduan musik yang digunakan adalah kolaborasi antara instrumen musik barat berupa alat tiup atau trombone dengan instrumen musik Jawa.

Lebih dari itu, lirik yang digunakan dalam tarian ini konon mengisahkan tentang kisah romantis nan mistis antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kencono Sari atau biasa dikenal dengan Ratu Kidul. Semakin berjalannya waktu, tarian Bedhaya Semang ini akhirnya menjadi induk dari Beksan Budhaya di Keraton Yogyakarta.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: