Kisah Beringin Kembar dan Ritual-Ritual Jawa yang Melegenda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
beringin-kembar
Beringin Kembar Tempo Dulu di Alun-Alun Kidul/ Alkid, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta /Foto: masshar2000.com

santrikertonyonoBingar-bingar gemerlap Yogyakarta yang selalu identik dengan kemajuan peradaban zaman, bahkan kota ini juga menjadi salah satu tujuan destinasi tempat favorit kalangan muda baik untuk liburan ataupun menempuh pendidikan. Namun, semaju apapun peradabannya, Kota Yogyakarta tak pernah kehilangan jati dirinya sebagai kota yang banyak menyimpan sejarah budaya.

Beberapa titik lokasi yang dianggap menyimpan kisah masa lalu kerajaan-kerajaan Jawa hingga cerita-cerita klasik pada zaman leluhur hingga masa keraton seperti tersimpan rapi dan sangat dilindungi. Hal seperti itu bak ingin menegaskan bahwa masyarakat Jawa sangat menghargai dan menghormati keberadaan nenek moyang, raja-raja Jawa, dan peraturan yang telah ada sejak zaman dulu.

Salah satu kisah ikonik yang hingga kini masih santer terdengar adalah kisah pohon beringin kembar yang terletak di Patehan, Keraton, Kota Yogyakarta. Bagi masyarakat yang kurang mengerti, mungkin ini hanya dianggap sebagai dua pohon biasa yang berdiri di tengah alun-alun.

Namun, bagi masyarakat asli Yogyakarta terutama yang berdomisili di sekitar alun-alun, tentunya dua pohon yang berdiri gagah dan menjulang ke langit ini memiliki arti tersendiri. Konon, dua pohon beringin ini menjadi salah satu saksi perjalanan Sultan Hamengku Buwono I dalam memimpin Kota Yogyakarta.

Dilihat dari letaknya, dua pohon beringin ini terletak tepat di tengah alun-alun yang berukuran 160×160 meter, dengan dikelilingi sebuah pagar setinggi 2 meter dan memiliki lima bukaan yang dianggap sebagai pintu masuk ke alun-alun. Dimana, beberapa ahli sejarah mengungkapkan bahwa bukaan itu sudah ada semenjak era Majapahit.

Beringin kembar ini tak hanya nampak spesial karena mitos dan kisah sejarahnya, namun ada sebuah permainan unik yang juga melibatkan pohon ini. Permainan ini disebut masyarakat dengan istilah Masangin, yakni dengan cara berjalan diantara dua pohon beringin tersebut.

Setiap orang yang akan bermain Masangin, maka wajib menutup kedua matanya dengan kain. Lalu, ia harus berjalan di antara pohon beringin kembar. Banyak mitos yang beredar bahwa siapapun yang berhasil melakukannya maka ia akan segera menemukan jodoh atau pendamping hidup.

Meskipun kelihatannya mudah, nyatanya masih banyak wisatawan yang mencoba permainan Masangin ini dan mereka tidak berhasil menyelesaikannya. Konon, asal-usul dari permainan ini juga mengandung mitos dan legenda yang saling berhubungan dengan masa kekuasaan Sri Sultan Hamengku Buwono I.

beringin-kembar-masangin
Tampak dua orang mencoba “masangin”. Sama-sama ditutup mata. Start dari garis dan arah tujuan yang sama, tapi ujungnyanya bisa berbeda arah /Foto: Ist

Kisah Cinta Putri Sri Sultan Hamengku Buwono I

Perjalanan kisah asmara putri dari seorang raja memang beberapa ada yang tidak berjalan mulus. Kisah cinta mereka terkadang harus dihadang hitungan jawa, cerita mitos, restu raja hingga cinta yang tak terbalas. Hal itulah yang sama-sama dirasakan oleh salah satu putri dari Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Beberapa literatur sejarah banyak yang tak menyebutkan namanya, namun kisah sang putri telah dituliskan dan diwariskan secara turun temurun agar menjadi pengingat dan warisan untuk anak cucu. Karena cerita sebagian besar diturunkan melalui mulut ke mulut, maka tak mengherankan jika ada beberapa poin cerita yang berubah atau malah hilang.

Konon, diceritakan bahwa sang putri kala itu ingin sekali bisa menyegerakan pernikahan. Kabar itupun beredar hingga ke pelosok wilayah. Akhirnya, datanglah seorang laki-laki yang dengan gagah berani datang ke istana untuk meminang sang puti.

Namun sayang, sang putri yang konon ingin segera menikah, nyatanya tidak menyukai laki-laki yang telah datang dan siap meminangnya. Karena laki-lakinya juga tida menyerah, akhirnya putri Sultan Hamengku Buwono I ini mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi.

Dimana, syarat tersebut adalah sang laki-laki harus berhasil berjalan dengan kedua mata ditutup dengan kain, ia harus berjalan dari pendopo yang terletak di sisi utara alun-alun kidul hingga melewati dua pohon beringin kembar yang terletak di tengah alun-alun dan berakhir di pendopo sisi selatan alun-alun kidul tersebut.

Laki-laki yang tak disebutkan identitasnya ini langsung menyanggupi persyaratan yang diajukan oleh sang putri. Mungkin sama dengan laki-laki pada umumnya yang ingin berjuang untuk mendapatkan hati sang pujaan, ia pun mempunyai keyakinan yang cukup kuat bahwa ia akan berhasil.

Namun, perhitungannya meleset. Ia gagal melewati pohon beringin kembar itu dengan mata tertutup. Tentu ini bukan persyaratan yang mudah, memang terdengar sepele namun butuh kemampuan dan kepekaan untuk menyelesaikan persyaratan tersebut.

Melihat kegigihan sang laki-laki itu yang tak main-main, alhasil Sultan Hamengku Buwono I mengeluarkan sabdanya bahwa siapapun yang bisa menyelesaikan syarat dari sang putri, berarti ia adalah laki-laki yang mempunyai hati tulus dan bersih.

Setelah kejadian itu, tak banyak peneliti sejarah yang mengetahui apakah di kemudian hari banyak laki-laki yang mencoba berjalan melewati dua pohon beringin kembar ini. Namun, salah satu sumber sejarah menyebutkan bahwa ada seorang laki-laki yang akhirnya berhasil menyelesaikan persyaratan yang diajukan oleh sang putri.

Konon, laki-laki itu adalah pemuda asal Siliwangi yang akhirnya bisa mempersunting putri Sultan Hamengku Buwono I. laki-laki yang berhasil berjalan melewati dua pohon beringin kembar dengan mata tertutup ini disinyalir merupakan salah satu keturunan dari Prabu Siliwangi.

Disisi lain, pohon beringin yang kerapkali dikenal dengan istilah ringin kurung ini dianggap sebagai ciri khusus dari kompleks bangunan keraton Yogyakarta yang telah berdiri sejak zaman dahulu. Terlebih, masyarakat Jawa juga menyakini bahwa dua pohon beringin yang tumbuh di lingkungan keraton adalah pohon keramat.

beringin-kembar-ringin-kurung
Ringin Kurung di Alun-Alun Lor (1888) /Foto: pinterest.com

Beberapa masyarakat bahkan percaya jika di keraton Yogyakarta dikelilingi suasana mistis yang kental dan sulit diterima oleh akal logika manusia. Itulah yang kerapkali menjadi alasan beberapa orang yang tidak berhasil melakukan tradisi ini.

Karena pada dasarnya, ritual berjalan diantara dua pohon beringin dengan mata tertutup kain hanya akan berhasil jika seseorang mempunyai keyakinan dengan hati yang bersih, jauh dari sifat iri dengki. Tak hanya berhenti disitu, keberadaan pohon beringin di tengah alun-alun juga menjadi tolak balak bagi musuh yang ingin menyerang Keraton Yogyakarta.

Tradisi Topo Bisu dan Pintu Laut Selatan

Ritual atau permainan Masangin tak pelak menjadi tujuan wisata bagi beberapa pelancong yang ingin merasakan sensani berjalan dengan mata tertutup di tengah alun-alun Yogyakarta. Meskipun banyak yang pada akhirnya menemui kegagalan dan akhirnya menyerah jauh sebelum permainan itu selesai.

Dalam sejarahnya, konon tradisi Masangin sudah ada sejak masa kejayaan Kesultanan Yogyakarta. Beberapa sejarawan menyatakan bahwa permainan Masangin ini kerapkali dilakukan saat pagelaran tradisi topo bisu. Dimana, setiap malam 1 suro secara rutin para prajurit dan seluruh abdi dalem keraton akan mengelilingi benteng tanpa boleh mengucapkan satu patah kata pun.

Para prajurit dan abdi dalem ini akan mengenakan pakaian adat Jawa secara lengkap dari ujung kaki hingga ujung kepala, berbaris rapi dan siap memulai ritual topo bisu. Mereka akan memulai ritual ini dari halaman keraton dan berjalan menuju pelataran alun-alun dengan melewati dua pohon beringin kembar.

Lantas, hal itu menjadi tradisi turun temurun yang dilakukan untuk mencari berkah, meminta perlindungan dari serangan musuh serta hal-hal buruk yang kasat mata. Beberapa mitos tentang dua pohon beringin kembar ini akhirnya berkembang hingga sekarang, ada beberapa masyarakat yang meyakini, namun ada juga beberapa yang menganggap itu tak lebih dari sebuah mitos dan cerita rakyat.

Keberadaan dua pohon beringin kembar tak hanya dipercayai sebagai sebuah ritual, lebih dari itu masyarakat Yogyakarta khususnya juga percaya bahwa dua pohon itu merupakan pintu gerbang ghaib yang langsung mengarah ke gerbang kerajaan ghaib Kanjeng Ratu Kidul.

Mitos terkait pintu ghaib inipun berkembang sejak zaman Hamengku Buwono VI. Bagi masyarakat lokal, hal itu dianggap wajar karena mereka meyakini Keraton Yogya memiliki “hubungan” khusus dan spesial dengan Nyi Roro Kidul yang merupakan penguasa laut selatan.

Bahkan, beringin kembar yang juga memiliki penyebutan lain yakni supit urang konon juga dipercaya bisa menghilangkan kesaktian seseorang yang ingin berbuat jahat tepat saat ia melewati kedua pohon ini.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: