Keris, Benda Pusaka Warisan Nusantara yang Mendunia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Mendiang Ki Manteb Sudarsono [kanan] memperlihatkan kerisnya kepada Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan [kiri] /Foto: facebook-anies baswedan

Keris menjadi salah satu benda pusaka asal Indonesia yang kini keberadaannya tak lekang dimakan oleh zaman. Benda ini memiliki bentuk yang khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya.

Yang paling membedakan adalah karena bentuknya yang tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor atau terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah.

Bahkan, pada tahun 2005 silam, UNESCO mengakui kalau keris sebagai warisan budaya dunia non-bendawi manusia yang berasal dari Indonesia.

Dikutip dari jurnal milik H.M Fadhil Nurdin, berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad kesembilan. Keris digunakan sebagai senjata untuk membela diri dan simbol kekuasaan, jati diri dan bahkan memiliki kekuatan super-naturaf, terutama dalam perspektif komunitas dan para pewarisnya.

Keris sebagai Modal Politik

Dosen Universtas Padjajaran itu mengatakan, fenomena Keris dapat dijelaskan dari berbagai perspektif; budaya dan seni sebagai warisan, ekonomi, sosial, politik dan keamanan. Masing-masing pandangan ini dapat menjelaskan secara sistematik, terintegrasi ataupun parsial.

Dalam perspektif politik, keris digambarkan sebagai bagian dari realitas kedaulatan dan kekuasaan, terutama dalam kehidupan istana Raja dan Sultan. Kedua, konsepsi kedaulatan dan kekuasaan ini saling terkait dalam satu sistem, karena istilah kekuasaan wujud dalam kedaulatan.

Selama ini, fakta menunjukkan bahwa keris digunakan sebagai instrumen politik. Dalam sebuah forum politik, seorang pemimpin menunjukkan kekuatan, kekuasaan atau wibawanya dengan mengangkat keris; walaupun dengan maksud dan niat yang baik.

Dengan bersikap seperti itu, para pemimpin ingin memperlihatkan betapa pentingnya mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa dengan berbagai upaya untuk meneruskan perpaduan bangsa dan negara.

Keris sebagai Modal Sosial

Masih dikutip dari Jurnal milik H.M Fadhil Nurdin, Istilah modal sosial mempunyai pengertian luas. Dalam konteks perbincangan mengenai keris, dapat dipandang sebagai warisan generatif, kerajaan ataupun kesultanan sebelumnya, pada waktu yang sama dan kekinian.

Konsep ini dapat dinilai sebagai fenomena dunia merujuk kepada social assets, terkait dengan sumber daya manusia, budaya, nilai moral agama, partisipasi publik, komunitas dan kelompok masyarakat tertentu yang ada dalam sebuah negara.

Semua jenis aset sosial ini dilihat sebagai potensi yang mampu menghasilkan keuntungan ekonomi, politik dan sosial sebuah masyarakat maupun negara.

Dapat dipastikan, pewaris keris itu memiliki jaringan yang kuat di dalam struktur sosial pemilik keris sebelumnya.

Situasi dan dinamika seperti ini sebagai bentuk nyata wujudnya hubungan di dalam atau antar-keluarga, kelompok masyarakat sampai negara.

Dalam konteks pewaris keris, kita akan mengingat salah satu sosok pemimpin yang saat ini memimpin provinsi Ibukota Indonesia. Publik sangat ingat, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menjadi ahli waris keris milik Ki Manteb Sudarsono.

“Saya terima keris ini sebagai kehormatan dan Insya Allah dijaga. Begitu juga pesan agar wayang kulit tetap hidup dan berkembang,” kata Anies saat menerima keris dari Ki Manteb pada Sabtu (25/4/2021).

Anies menerima keris itu tepat 68 hari sebelum seorang dalang senior itu dipanggil ke pangkuan Illahi pada Jumat (2/7/2021). Orang nomor satu di Ibu Kota itu menceritakan anatomi keris tersebut.

Berikut penjelasan Anies ihwal sejarah keris milik almarhum Ki Manteb dikutip dari akun Instagram pribadinya @aniesbaswedan.

Anatomi keris ini ada 7 lekukan, dalam bahasa Jawa Pitu = Pitulungan (pertolongan). Doa agar ditolong sang pencipta.

Keris ini punya Kinatah berbentuk sulur di pangkal bilah. Artinya, keris ini berjasa dalam peristiwa besar dan jadi lambang status sosial pemiliknya.

Enam puluh delapan hari sebelum wafat, Ki Manteb Sudarsono [kanan] memberikan kerisnya kepada Anis Baswedan [kiri] /Foto: facebook-anies baswedan
Keris Ki Manteb dasar penangguhannya adalah Keris Sepuh berdapur Carubuk era Mataram, campuran besi, baja dan pamor atau batu meteor.

Istilahnya Ibu Bumi Bopo Angkoso, memadukan unsur bumi dan langit. Teksturnya Ganggang Kanyut (ganggang hanyut terbawa air) di sepanjang bilah keris dengan filosofi aliran tanpa hambatan.

Tempaan para empu tak main-main, presisinya tinggi. Keris stabil dan seimbang, bisa berdiri tanpa penyangga, hanya ditopang ujung runcing keris atau gagang kayu bulat melengkung.

Warangka (sarung keris) dibuat dari sebidang kayu utuh tanpa sambungan.

Sejarahnya, keris jenis ini dimiliki beberapa tokoh seperti Sultan Hadi Wijaya, pendiri Kerajaan Pajang (1549-1582) atau dikenal dengan panggilan Joko Tingkir penakluk buaya di Sungai Kedung Srengenge.

Selain itu, keris ini juga pernah dibawa Sunan Kalijaga saat bawa kayu untuk tiang Masjid Agung Demak lewat Sungai Kreo.

Menurut dia, sebagai warisan leluhur, keris adalah pusaka hasil kerja keras, tekun, material berkualitas, dibuat dengan doa. Benda pusaka ini adalah mahakarya penuh filosofi dan tak lekang zaman.

“Kita doakan Almarhum Ki Manteb Sudarsono dimuliakan di sisi Allah SWT. Insya Allah keris ini saya jaga, rawat dan simpan dengan baik sebagai bagian mencintai dan merawat budaya bangsa,” kata Anies.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: