Kenduri, Cara Dakwah Sunan Ampel Meleburkan Tradisi Champa dan Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
tradisi petik laut
Ragam sesaji di perahu dalam ritual “Petik Laut” di pelabuhan muncar /Foto: jalanasyik.wordpress.com

santrikertonyonoSetiap hari Rabu keempat bulan Sapar atau Safar (Kalender Jawa) atau Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan, sebagian besar nelayan Banyuwangi Jawa Timur melangsungkan ritual petik laut.

Para nelayan berjalan menyusuri pasir Pantai Waru Doyong, Kecamatan Kalipuro sambil mengarak tumpeng atau sesaji. Sebuah kepala seekor kambing yang masih tersisa percik darah bekas penyembelihan menjadi bagian paling menonjol dalam tumpeng. Terlihat juga tumpukan hasil bumi serta umbi-umbian.

Kepulan asap dupa ditambah tabuhan kendang kesenian jaranan mengiringi prosesi upacara. Tumpeng dilarung ke laut lepas. Namun sebelum pelarungan, para nelayan berdoa bersama. Seorang tetua maju memimpin doa, merapal mantra yang berlafal Arab bercampur Jawa.

Dalam doanya, nelayan berharap berkah kemuliaan hidup sekaligus dihindarkan dari bala, malapetaka. “Suasananya kental terhadap tradisi dan ritual,” tutur Sujarno, Ketua Panitia Rebo Pungkasan dalam keterangannya kepada media massa.

Di waktu yang sama, masyarakat Bantul Yogyakarta juga melangsungkan hal serupa. Begitu juga sebagian masyarakat Kudus, Jawa Tengah, Cirebon, Tasikmalaya Jawa Barat dan Banten.

Tradisi Rebu Wekasan yang masih lestari diyakini sebagai warisan dakwah Raden Rahmat atau Sunan Ampel saat mengenalkan Islam. Sunan Ampel diperkirakan menjejakkan kaki di tanah Jawa pada awal dasawarsa keempat abad ke-15.

Hikayat Hasanuddin yang dikaji J.Edel (1938) menyebut, Sunan Ampel sudah bermukim di Jawa saat Raja Koci (Vietnam) menaklukkan Kerajaan Champa. “Itu berarti Raden Rahmat ketika datang ke Jawa sebelum tahun 1446 Masehi, yakni pada tahun jatuhnya Champa akibat serbuan Vietnam”.

Sunan Ampel membawa tradisi negeri Champa tersebut ke Nusantara, khususnya Jawa. Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo menyebut, pengaruh dakwah Islam Sunan Ampel beserta putra, saudara, menantu, kemenakan, kerabat dan murid-muridnya telah tersebar di berbagai tempat.

“Tidak diragukan lagi telah memberikan kontribusi tidak kecil bagi terjadinya perubahan sosio-kultural-religius pada masyarakat yang sebelumnya mengikuti adat dan tradisi keagamaan Majapahit yang terpengaruh Hindu-Buddha dan Kapitayan,” tulisnya.

Sunan Ampel Masuk Melalui Jalan Kekuasaan

Jejak tradisi Rebo Wekasan yang disinyalir kuat sebagai peninggalan Sunan Ampel ditemukan tidak hanya di Jawa. Sebagian warga Aceh, Sumatera, Riau, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, bahkan Maluku, juga mengenal tradisi tersebut.

Masyarakat yang melangsungkan tradisi ini kebanyakan bertempat tinggal di wilayah pesisir yang relatif lebih dulu, kuat, dan kosmopolit keislamannya dibanding daerah pedalaman.

Karel A. Steenbrink dalam Aspek tentang Islam di Indonesia ke-19 (1984) menyebut tradisi tersebut sudah muncul sejak awal abad ke-17. Warga muslim Aceh Selatan menamakan tradisi yang berlangsung hari Rabu terakhir di bulan Sapar atau Safar ini, “MakMegang”.

“Ritual tolak bala ini berupa doa bersama di tepi pantai yang dipimpin oleh seorang teungku dan diikuti oleh para tokoh agama, tokoh masyarakat, dan sebagian warga”.

Thomas W Arnold dalam The Preaching of Islam (1977) menuliskan, sebelum ke Jawa, Raden Rahmat terlebih dahulu mampir ke Palembang, Sumatera dan bertemu Adipati Arya Damar.

Raden Rahmat menjadi tamu Arya Damar yang kemudian menjadi muslim dan bersalin nama Arya Abdillah, selama dua bulan. “Dan dia berusaha memperkenalkan Islam kepada raja muda Palembang itu”.

Bukan hanya tradisi Rebu Wekasan atau Arba’a Akhir. Sunan Ampel juga meninggalkan warisan tradisi lain yang disinyalir kuat terpengaruh dengan tradisi khas Champa.

Dalam Sejarah Perjuangan Sunan Ampel: Taktik dan Strategi Dakwah Islam di Jawa Abad 14-15, Agus Sunyoto menulis: upacara peringatan orang mati pada hari ke-3, ke-17, ke-40, ke-100, termasuk haul, talqin, adalah tradisi khas Champa yang jelas-jelas terpengaruh paham Syiah Zaidiyah.

Demikian juga dengan perayaan 1 dan 10 Syuro dengan penanda Bubur Syuro, tradisi Nisfu Sya’ban, paham wahdatul wujud, larangan menggelar hajat pernikahan, mengkhitankan anak, dan pindah rumah pada bulan Syuro. Kemudian pembacaan kasidah yang memuji kanjeng Nabi Muhammad SAW dan ahlul bait, si’iran pujian kepada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya dan wirid yang diamalkan muslim tradisional di Jawa.

“Bahkan istilah “kenduri” jelas menunjuk kepada pengaruh Syiah karena istilah itudipungut dari bahasa Persia: “kanduri”, yakni upacara makan-makan di Persia untuk memperingati Fatimah az-Zahroh, putri Nabi Muhammad SAW”.

Raden Rahmat atau Sunan Ampel merupakan putra Syaikh Ibrahim As-Samarkandi yang berasal dari negeri Champa. Dalam Sejarah dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri (1975), tertulis Imam Rahmatullah (Raden Rahmat) datang ke Jawa bersama ayahnya dengan tujuan dakwah Islamiyah.

Kedatangan Raden Rahmat juga disertai saudaranya yang bernama Ali Musada atau Ali Murtadho dan sepupunya yang bernama Raden Burereh (Abu Hurairah), putra Raja Champa.

Raden Rahmat kemudian menikahi putri Adipati Tuban Arya Teja yang juga cucu Arya Lembu Sura Raja Surabaya yang beragama Islam. Babad Ngampeldenta menyebut, Raja Majapahit Brawijaya V yang mengangkat Raden Rahmat sebagai imam di Surabaya dengan gelar Sunan sekaligus diberi kedudukan wali di Ngampeldenta.

Raja Brawijaya merupakan suami dari putri Champa yang tak lain bibi Raden Rahmat yang. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menulis, usaha dakwah yang dilakukan Raden Rahmat adalah membentuk jaringan kekerabatan melalui perkawinan-perkawinan para penyebar Islam dengan putri-putri penguasa bawahan Majapahit.

“Dengan cara itu, ikatan kekeluargaan di antara umat Islam menjadi kuat”.

Tasawuf Sunan Ampel

Sunan Ampel digambarkan sebagai ulama yang zuhud sekaligus menjalankan laku riyadhoh yang ketat. Sunan Ampel tak hanya mengajarkan murid-muridnya membaca Al-Qur’an dan kitab tentang syariat.

Guru Sunan Giri sekaligus ayah Sunan Bonang tersebut juga mengajarkan ilmu tarekat maupun hakikat, baik lafal maupun makna. Babad Tanah Jawi menggambarkan amalan rohani yang dijalankan Sunan Ampel melalui nukilan sebagai berikut:

Ora dhahar ora guling, anyegah ing hawa, ora sare ing wengine, ngibadah maring Pangeran, fardu sunat tan katingal, sarwa nyegah haram makruh, tawajuhe muji ing Allah

Babad Demak menyebut Sunan Ampel memberikan ajaran esoteris kepada Raden Paku (Sunan Giri), yakni ilmu tasawuf yang berpijak pada ilmu kalbu. Ajaran Sunan Ampel berangkat dari tiga kata: bi nasrih, tubadil, dan daim dengan kunci bi ru’yatil fu’ad. Bahwa ilmu yang diajarkan Sunan Ampel hanya bisa dipahami melalui mata hati atau mata batin (bi ru’yatil fu’ad).

“Inti ajaran beliau adalah fa ainama tuwallu fatsamma wajhullah. Kabiran alhamdulillah katsiran fasubhanallahi bukratan wa ashila, inni wajjahtu wajhiya,” kata Sjamsudduha dalam Sejarah Sunan Ampel: Guru Para Wali di Jawa dan Perintis Pembangunan Kota Surabaya (2004).

Sunan Ampel dalam Babad Tanah Jawi naskah Drajat disebut mengajarkan laku suluk kepada murid-muridnya sesuai ajaran tarekat Naqsyabandiyah. Pendiri tarekat Naqsyabandiyah adalah Muhammad bin Muhammad Baha’uddin al-Uwaisi al- Bukhari al- Naqsyabandi yang berasal dari Hinduwan atau Arifan, Bukhara Uzbekistan (717 H atau 1318 M).

Menurut Abdul Wadud Kasyful Humam, S.Th.I dalam Satu Tuhan Seribu Jalan, pengembangan tarekat Naqsyabandiyah di Jawa Timur dibawa oleh syekh Abdul Azim Manduri dari Madura. Syekh Abdul Azim Manduri juga yang mengembangkan ajaran Naqsyabandiyah di Kalimantan Barat, terutama di komunitas penduduk Madura.

Sementara di Indonesia, yang pertama kali membawa ajaran tarekat Naqsyabandiyah adalah syekh Yusuf al-Makassari (1626-1699). Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menyebut, dengan mengajarkan ilmu tasawuf, Raden Rahmat dianggap sederajat dengan para guru suci Syiwais yang berwenang melakukan diksha (baiat) yang diberi gelar kehormatan susuhunan.

“Demikianlah, gelar susuhunan atau sunan yang diperuntukkan bagi Raden Rahmat dalam bentuk Susuhunan Ampel atau Sunan Ampel,” tulisnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: