Kekuatan Tembang Lir-ilir dan Taktik Dakwah Sunan Kalijaga

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
sunan-kalijaga
Sketsa Sunan Kalijaga /Foto : https://soedonowonodjoio.family

Tembang Lir-ilir menjadi salah satu bukti cerdik dan luwesnya para Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Jawa pada abad ke-15 Masehi. Lirik syair yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga ini mengandung makna mendalam yang ampuh dijadikan sebagai media dakwah dalam misi syiar Islam di tanah Jawa yang kala itu lekat dengan ajaran dan tradisi leluhur.

Dakwah Islam yang dirintis oleh Wali Songo gencar dilakukan seiring munculnya Kesultanan Demak di Jawa bagian tengah. Hadirnya Kesultanan Demak seolah menjadi penantang serius bagi Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa bagian timur. Seperti diketahui, Majapahit adalah kerajaan besar yang menganut agama Hindu dan Buddha.

Sultan Demak pertama, yakni Raden Patah, adalah pangeran Majapahit yang mulanya berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya. Atas dukungan para wali, berdirilah Kesultanan Demak pada 1475 Masehi yang kemudian berdampak terhadap runtuhnya Kerajaan Majapahit menjelang akhir abad ke-15 M.

Strategi Syiar Islam Sunan Kalijaga

Tamatnya riwayat Kerajaan Majapahit bukan berarti dakwah Islam di Jawa menjadi lebih mudah dilakukan. Sebagian besar rakyat Jawa di bagian tengah dan timur sebelumnya merupakan kawula Majapahit yang memeluk dan melaksanakan ajaran agama Hindu atau Buddha, juga menganut ajaran leluhur.

Dari situlah diperlukan strategi khusus dan cara-cara yang bijak lagi luwes untuk mengenalkan Islam kepada rakyat Jawa, salah satunya dengan mengadaptasi tradisi setempat demi menarik minat masyarakat terhadap Islam. Itulah yang dilakukan para wali, termasuk Sunan Kalijaga.

Mulyono melalui risetnya bertajuk “Strategi Pendidikan Dalam Tembang Lir-Ilir Sunan Kalijaga Sebagai Media Dakwah Kultural” yang terhimpun dalam Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah (Volume 5, Nomor 1, 2020), menyebutkan bahwa paham keagamaan Sunan Kalijaga cenderung sufistik berbasis salaf, bukan sufi panteistik yang bersifat pemujaan semata.

Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana dan pendekatan berdakwah. Ia sangat toleran terhadap budaya lokal. Menurut Sunan Kalijaga, orang akan menjauh jika diserang pendirian atau ketetapan hatinya sehingga harus didekati secara bertahap demi tahap.

Apabila ajaran Islam sudah dipahami, dalam pandangan Sunan Kalijaga, kebiasaan lama akan hilang dengan sendirinya. Maka dari itu, Sunan Kalijaga selalu memperkenalkan Islam secara luwes tanpa menghapus adat-istiadat atau tradisi, termasuk seni, yang telah sebelumnya sudah ada.

Taktik syiar untuk mengenalkan ajaran Islam kepada rakyat Jawa dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan jalan sinkretis, yakni mencari penyesuaian atau keseimbangan antara dua aliran yang berbeda. Media dakwah yang digunakan adalah seni, dari seni ukir, wayang, gamelan, musik, dan lainnya.

Makna dan Filosofi Tembang Lir-ilir

Salah satu hasil karya Sunan Kalijaga yang paling berpengaruh dalam rangka strategi mengenalkan Islam kepada masyarakat Jawa adalah tembang Lir-ilir. Sunan Kalijaga menggubah tembang ini pada perjalanan abad ke-15 M. Berikut ini lirik tembang Lir-ilir beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

Lir-ilir, Ilir-ilir

Tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo

Tak sengguh temanten anyar

Cah angon, cah angon

Penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Kanggo mbasuh dodotiro

Dodotiro, dodotiro

Kumitir bedah ing pinggir

Dondomono, jlumatono

Kanggo sebo mengko sore

Mumpung padhang rembulane

Mumpung jembar kalangane

Yo sorako,

Sorak iyo

Artinya:

Bangunlah, bangunlah

Tanaman sudah bersemi

Demikian menghijau

Bagaikan pengantin baru

Anak gembala, anak gembala

Panjatlah pohon blimbing itu

Meskipun licin tetap panjatlah

Untuk membasuh pakaianmu

Pakaianmu-pakaianmu

Sobek di bagian samping

Jahitlah, perbaikilah

Untuk menghadap nanti sore

Mumpung rembulan masih terang

Mumpung masih banyak waktu luang

Bersoraklah

Dengan sorakan iya

Baris-baris tembang Lir-ilir di atas jika diperhatikan dengan saksama adalah saling terkait dan sambung-menyambung. Meskipun terdengar seperti nyanyian untuk anak-anak, namun makna tembang Lir-ilir amat mendalam: mengenai kehidupan manusia yang penuh suka dan duka hingga kesadaran untuk beribadah kepada Tuhan sebelum ajal menjemput.

Lebih khusus lagi, dalam konteks ajaran Islam, seperti diuraikan Yusuf Bakti Nugraha dan Lutfiah Ayundasari lewat tulisan “Sunan Kalijaga dan Strategi Dakwah Melalui Tembang Lir-Ilir” dalam Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial (Volume 1, Nomor 4, 2020), Lir-ilir memuat makna keimanan tentang Islam, termasuk Rukun Islam, pertobatan, muhasabah, sampai introspeksi diri sebelum mati.

Widhi Salikha dalam Kesenian Sebagai Media Dakwah Sunan Kalijaga (2020), mengutip hasil penelitian Muhammad Budi Santoso berjudul “Nilai dan Hakikat Tembang Lir-ilir karya Sunan Kalijaga” (2017), memaparkan bahwa secara struktural, tembang Lir-ilir memiliki nilai-nilai spiritual dan budaya.

Tembang Lir-ilir, dalam konteks nilai spiritual, memiliki tahapan-tahapan untuk menuju makrifat kepada Sang Pencipta. Tingkatan-tingkatan tersebut sesuai dengan tahapan dalam setiap bait dalam syair Lir-ilir yang dirumuskan oleh Sunan Kalijaga.

Sedangkan dari sisi budaya, beberapa baris dalam tembang Lir-ilir mengandung makna yang lebih tersirat atau bersifat simbolis. Makna tersirat itu menunjukkan esensi dari isi tembang Lir-ilir yang dipergunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai simbol untuk memahami ajaran agama secara benar.

Pemaknaan filosofi yang luas dan sakral dalam tembang Lir-ilir dapat diterima dengan lebih mudah karena disampaikan dengan gaya bersenandung yang menenangkan batin. Dengan menyanyikan Lir-ilir tanpa paksaan, orang bakal meresapi dan perlahan tapi pasti akan memahami makna yang terkandung di dalamnya seiring pengetahuan tentang Islam yang sudah lebih baik.

Maka, dengan cara-cara luwes seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga dan para wali lainnya, tidak mengherankan apabila Islam berhasil mengambil hati rakyat Jawa lantaran mampu bersinergi dengan adat atau kebiasaan lama yang sudah melekat sebelumnya.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: