Geger Dijebol Eksavator, Benteng Ini Jadi Saksi Bisu Peninggalan Kerajaan Mataram

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Benteng Kartasura peninggalan Kerajaan Mataram /Foto: merdeka.com

santrikertonyonoBeberapa waktu yang lalu warga Kabupaten Sukoharjo dibuat geram oleh ulah salah satu oknum yang dengan tega menghancurkan salah satu sisi benteng yang memiliki nilai sejarah tinggi itu, Benteng Keraton Kartasura. Beberapa warga bahkan mengaku terkejut dengan Eksavator yang tiba-tiba menjebol dinding benteng keraton, diketahui eksavator itu digunakan untuk membuka akses jalan selama pembangunan.

Rasa geram dan kecewa nampaknya tidak hanya menyelimuti hati warga, bahkan mulai dari jajaran pemerintah hingga pengamat budaya pun sangat menyayangkan sikap oknum yang telah menghancurkan dinding benteng. Naasnya, masyarakat sekitar dinding benteng tak tahu banyak tentang latar belakang dan sejarah tembok hingga terkesan membiarkan tembok itu dijebol.

Tembok yang terletak di Kampung Krapyak Kulon, Kelurahan Kartasura, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo ini telah menjadi puing-puing batu bata yang berserakan di atas tanah. Warga sekitar hanya bisa menatap getir, dinding keraton yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan kini tak ubahnya menjadi tumpukan batu diatas tanah.

Bak menelan pil pahit, jajaran Pemerintah Kabupaten Sukoharjo nampak begitu sangat kecewa dengan sikap yang para warga dan oknum yang terkesan membiarkan penjebolan dinding itu terjadi. Bahkan, saat langsung terjun ke lokasi, ia sempat menumpahkan kekesalan terhadap warga yang tinggal di area sekitar dinding keraton.

Sebagai warga negara yang melek akan warisan sejarah dan budaya, sudah sepatutnya membantu pemerintah dalam melindungi, mengedukasi serta mensosialisasikan keberadaan situs bersejarah itu. Hal itu tentunya bertujuan untuk merawat budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang agar tetap kokoh sebagai salah satu peninggalan yang berharga.

Selain itu, geram dan kecewa turut dirasakan oleh Raja Keraton Kasunanan Surakarta Pakubuwono XIII Hangabehi serta sejumlah kerabat Keraton Surakarta saat mendatangi dan melihat secara langsung kondisi dinding benteng Keraton Kartasura. Nampak sorot matanya tak lepas dari setiap bagian reruntuhan bangunan dinding yang kini menggunung.

Menurut berbagai sumber, Keraton Kertasura ini sebenarnya memiliki dua benteng yang masing-masing memiliki nama Benteng Srimanganti serta Benteng Baluwarti. Di area benteng tersebut konon terdapat masjid, bangsal serta area pemakaman. Diketahui juga terdapat sebuah bangunan lain yang kini telah dipindahkan ke Keraton Solo pada tahun 1745 silam.

Diketahui, lokasi benteng Baluwarti sendiri ada di sebelah barat yang berjarak sekitar 450 meter dari keraton Kartasura. Namun, sebagian besar bagian dari benteng Baluwarti sudah tidak bisa disaksikan lagi, pasalnya sekarang hanya menyisakan sisa-sisa benteng dengan panjang 100 meter.

Sementara, benteng bata merah Srimanganti masih tampak gagah berdiri mengelilingi kompleks utama dari Keraton Kartasura ini seluas 2,5 hektare. Benteng yang memiliki tinggi kurang lebih 6 meter dan lebar 2 meter ini nampak semakin lapuk dimakan usia, meskipun dahulu memiliki tinggi 6 meter kini hanya menyisakan sekitar 4 meter.

Konon, dahulu Keraton Kartasura ini mempunyai dua buah pintu gerbang yang menghadap ke dua sisi yakni masing-masing sisi utara dan sisi selatan. Dimana, pintu gerbang bagian utara kini sudah dilakukan penutupan, sedangkan pintu gerbang bagian selatan masih dipergunakan sebagai akses keluar masuk benteng. Namun, beberapa bagian benteng sudah banyak berkurang dan rapuh.

kartasura
Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah mengukur tembok benteng Keraton Kartasura yang rusak dijebol warga di Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (23/4/2022) /Foto: republika.co.id

Kisah Panembahan Senapati dan Perluasan Mataram

Kisah berdirinya Keraton Kartasura sebagai salah satu bagian dari warisan budaya leluhur membuat banyak ahli sejarah menuliskan dalam sebuah buku. Sebagai bahan pengingat serta bahan pembelajaran bahwa dahulu kala pernah berdiri sebuah kerajaan agung nan besar yang mampu menciptakan peradabannya sendiri. Sehingga para abdi dalem serta penerusnya mampu mempertahankan eksistensi keraton di mata masyarakat.

Disadur dari sebuah buku berjudul “Sejarah Indonesia Modern 1200-2004” (2007) karya M. C. Ricklefs, sejarah terbentuknya Keraton Kartasura bermula pada awal masa Dinasti Mataram yakni kurang lebih pada abad ke-16. Dimana, saat itu muncul dua kekuatan baru di pedalaman Jawa Tengah yang terkenal memiliki tanah subur dan bagus untuk bercocok tanam, yakni Pajang dan Mataram. Lantas, Mataram tumbuh menghasilkan dinasti Jawa yang modern dan kuat.

Jika dilihat dari Babad Jawa, Sosok Kiai Gedhe Pamanahan atau Kiai Ageng Mataram adalah penguasa pertama wilayah Mataram. Dimana, ia menempati Mataram sekitar tahun 1570 dan lalu dinyatakan meninggal dunia pada tahun 1584. Dalam kronik-kronik Mataram sendiri, Kiai Gedhe Pamanahan konon disebut-sebut sebagai keturunan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit.

Kerajaan Mataram mulai melakukan perluasan wilayah ke beberapa daerah disekitarnya, masih dalam kronik Jawa, bahwa Panembahan Senapati yang tak lain Putra Pamanahan inilah sosok yang memprakarsai perluasan wilayah tersebut. Hingga pada akhir abad ke-16, bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda, Kerajaan Mataram berubah menjadi kerajaan yang kuat dan tengah mengembangkan kekuasannya.

Perjuangan Panembahan Senopati dalam memperluas wilayah Kerajaan Mataram dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Panembahan Hanyokrowati atau biasa dikenal Panembahan Seda ing Krapyak. Dibawah pimpinan Panembahan Hanyokrowati, Mataram untuk pertama kalinya membuka hubungan dengan VOC. Tak lama kemudian, tongkat kekuasaan Hanyokrowati diteruskan oleh sang anak yakni Sultan Agung.

Di bawah pemerintahan Sultan Agung, Mataram menduduki puncak kejayaan pada tahun 1625 hingga 1627. Pemerintahan dilanjutkan ke anaknya yakni Susuhunan Amangkurat I. Di eranya ia menjabat, Amangkurat I memerintah dengan tangan besi. Tepat pada tahun 1647, Amangkurat I memutuskan untuk pindah ke Istana Plered di sebelah timur Karta.

Tak seperti Karta yang hanya terbuat dari kayu, istana baru ini terbuat dari batu bata merah yang pembangunannya pun berlanjut hingga tahun 1666. Karena gaya pemerintahan yang sangat kejam, Mataram akhirnya terpecah. Ia bahkan sempat bersahabat dengan VOC meskipun tidak berlangsung lama. Bahkan yang lebih parah, pada tahun 1660 hingga 1670, Amangkurat I sempat berkonflik dengan putra mahkotanya sendiri yakni Amangkurat II.

Benteng Keraton Kartasura Mulai Dibangun

Menurut catatan sejarah, benteng yang masih berdiri kokoh ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1650-an yang dibangun oleh Amangkurat II. Benteng itu dibangun pasca peristiwa Geger Pacinan pada tahun 1742, dimana istana Kesultanan Mataram tersebut akan dipindah ke Keraton Surakarta di Solo. Pasalnya, benteng Srimanganti itu merupakan saksi bisu milik Keraton Kartasura.

Disebutkan, berawal dari sebuah pemberontakan Trunajaya dari Madura pada tahun 1677 yang kala itu tengah menyerbu Keraton Mataram lama yang berlokas di Plered. Pada waktu itu, Adipati Anom yang bergelar Amangkurat II langsung melarikan diri ke hutan Wanakarta dan disana ia lantas mendirikan sebuah keraton yang tak lain tak bukan adalah Keraton Kartasura.

kartasura
Salah satu tonggak sejarah di pulau Jawa adalah Keraton Kartasura. Keraton yang didirikan Amangkurat ini merupakan kota Kesultanan Mataram / Foto: Dok. Polda Jateng

Secara umum, perpindahan Keraton Kartasura menuju Keraton Surakarta Hadiningrat ditandai dengan meletusnya peristiwa Geger Pecinan pada tahun 1742. Saat itu, terdapat salah satu sisi tembok yang dijebol oleh Mas Garendi atau biasa disapa dengan sebutan Sunan Kuning atau seorang cucu Raja Amangkurat III dari Mataram.

Lubang besar di bagian utara Srimanganti dengan diameter sekitar 2 meter ini merupakan saksi bisa pemberontakan Mas Garendi yang kala itu di bantu oleh etnis Tionghoa. Kegagahan Keraton Kartasura mendadak dijebol akibat dari serbuan serta penghancuran benteng dengan menggunakan mesiu. Saat wilayah keraton mulai ricuh, Pakubuwono II yang kala itu bertakhta lantas melarikan diri ke Ponorogo.

Karena kondisi yang sudah tidak memungkinkan, akhirnya Keraton Kartasura yang kehilangan pemimpinnya itu jatuh ke tangan Mas Garendi dan diberi gelar Amangkurat V. Melihat wilayah kekuasaannya yang kini dikuasai Mas Garendi membuat Pakubuwono II kembali melakukan serangan untuk kembali merebut wilayahnya.

Tepat pada tahun 1743, akhirnya Pakubuwana II kembali ke Kartasura karena para pemberontak akhirnya bisa dilumpuhkan. Namun, Pakubuwono II merasa miris hati saat melihat kondis keraton ya g berantakan, porak poranda bahkan banyak bagian keraton yang rusak semenjak ia meninggalkannya.

Karena kondisi keraton yang sudah sangat parah itulah akhirnya Pakubuwana II memutuskan untuk memindahkan Keraton Kartasura ke Solo, yang saat ini lebih dikenal dengan sebutan Surakarta atau Solo. Lantas, Pakubuwono II secara resmi menempati Keraton Surakarta tepat pada tahun 1745.

Jika dilihat secara bentuk fisiknya, bentuk Keraton Kartasura tidak dibuat persegi empat, namun berbentuk segi enam. Naas, semenjak ditinggalkan Keraton Kartasura nampak terlihat terbengkalai bahkan menjadi hutan Keraton yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan rimbun serta terkesan tak terawat sama sekali.

Melihat kondisi keraton lama yang begitu menyesakkan hati, akhirnya pada tahun 1811 Pakubuwana IV lekas memerintahkan abdi dalem untuk kembali menengok keraton lama. Tak hanya sekedar menengok, Pakubuwono IV ingin selalu mengetahui kondisi dan situasi keraton yang dulu berdiri kokoh nan megah. Namun sayang, yang tersisa hanyalah benteng Cepuri saja.

Waktu berlalu, pembersihan area keraton selalu dilakukan selama 5 tahun terakhir, lalu tepat pada tahun 1816 salah satu punggawa Keraton Surakarta bernama Mas Ngabehi Sutorejo dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya lalu dimakamkan di kompleks Keraton Kartasura yang secara tidak langsung menjadi penanda berubahnya Keraton menjadi kompleks pemakaman.

Namun, sejak diresmikannya Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010, Hastana Keraton Kartasura kini sudah tidak dipergunakan lagi untuk tempat pemakaman yang baru. Sejak saat itu, juru kunci setempat terus melakukan perawatan dan membersihkan kompleks Makam Keraton Kartasura tersebut.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: