Falsafah Gunungan Selaras dengan Alam dan Islam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
Salah Satu Gunungan dalam Pewayangan /Foto: photo.reqnews.com

santrikertonyonoWayang kulit menjadi salah satu media syiar Islam yang digunakan oleh Wali Songo. Dari sekian banyak karakter wayang, ada satu figur khusus yang berbentuk gunung, yakni gunungan atau kayon. Konon, gunungan wayang diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Lantas, apa makna gunungan dalam kaitannya dengan Islam?

Seperti penyebutannya, gunungan dalam wayang terinspirasi dari bentuk gunung api, berupa kerucut atau segitiga yang meruncing pada bagian atasnya. Wujud penampakan unsur alam semacam ini kerap digunakan sebagai simbol kehidupan dan memiliki makna dalam kosmologi Jawa, baik pada masa pra-Islam maupun setelahnya.

Ada beberapa contoh perwujudan gunungan dalam tradisi Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini selain di ranah pewayangan. Sebut saja bentuk tumpeng yang biasanya dibuat untuk syukuran, atau gunungan yang dihimpun dari hasil bumi saat peringatan garebeg di Kraton Surakarta dan Yogyakarta maupun acara-acara tradisi lainnya.

Sedangkan dalam pewayangan, dikutip buku Sejarah Wayang Purwa (1982) karya Hardjowirogo, gunungan merupakan figur khusus berbentuk gambar gunung beserta isinya. Fungsi gunungan dalam pertunjukan wayang cukup banyak sehingga digambarkan dengan berbeda-beda.

Makna Gunungan Wayang Karya Sunan Kalijaga

Gunungan dalam pewayangan diciptakan oleh Sunan Kalijaga, khususnya untuk jenis gunungan blumbangan. Wayang yang digubah Sunan Kalijaga pada 1433 Saka atau tahun 1521 M, termasuk gunungan, sebagai media syiar Islam di Jawa, juga disebut sebagai kayon.

Bambang S. Widjanarko dalam Mendalami Seni Wayang Purwa (1990) menyebutkan, kayon berasal dari kata “kayu” karena bentuk gunungan yang mirip pohon. Selain itu, dalam gunungan juga terdapat gambar pohon dengan kayu atau cabang yang rindang.

Makna kayon dapat pula ditinjau dari pendekatan etimologi. Beberapa ahli menafsirkan kata kayon berasal dari kata khayu atau khayun dalam bahasa Arab yang berarti hidup. Sedangkan dalam bahasa Jawa kuno, ada kata kayun yang bermakna kehendak atau keinginan.

Dalam bilah kayon gunungan, tulis Agus Dermawan lewat buku Karnaval Sahibulhikayat (2021), ukiran gambar yang merupakan perlambang dari beberapa unsur alam, seperti tanah, tumbuhan, hewan, dan manusia.

Di dalam gunungan tidak ada sisi yang kuat atau lemah, salah atau benar, maupun kalah atau menang. Yang direfleksikan melalui gunungan adalah keharmonisan dan keseimbangan hidup di antara makhluk-makhluk ciptaan Tuhan yang hidup di tengah alam.

Filosofi Gunungan: Jawa, Islam, dan Alam Semesta

Mengapa bentuk gunungan terinspirasi oleh gunung api? Penanda gunungan dalam wayang karya Sunan Kalijaga adalah sengkalan yang berbunyi Geni Dadi Sucining Jagad atau “api yang menyucikan seluruh alam semesta.”

Maka, jika terjadi erupsi atau gunung meletus, semestinya itu tidak dianggap sebagai bencana semata. Sebaliknya, letusan gunung api bisa pula dimaknai sebagai anugerah yang memberikan banyak kegunaan bagi alam dan manusia.

Selain itu, sengkalan dalam gunungan tersebut jika dibalik menunjukkan angka 1442 Saka atau 1521 Masehi yang merupakan tahun diciptakannya gunungan oleh Sunan Kalijaga atau pada masa Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.

Gunungan selaras dengan falsafah Sangkan Paraning Dumadi alias asal-muasal kehidupan. Dikutip dari Agama Ageming Aji: Menelisik Akar Spiritualisme Jawa (2017) oleh Asti Musman, Sangkan Paraning Dumadi merupakan asal dan tujuan hidup, simbol alam semesta beserta isinya, dan tingkatan kehidupan manusia. Dengan kata lain, gunungan adalah lambang hidup dan penghidupan.

Terkait dengan kepentingan syiar Islam pada masa awal Kesultanan Demak di Jawa, kehadiran gunungan yang diciptakan Sunan Kalijaga untuk pementasan wayang kulit juga memuat makna serta filosofi mendalam.

Gunungan merupakan gambaran dari mustika atau kubah masjid. Sebelum pertunjukan wayang dimulai, gunungan diletakkan di tengah-tengah kelir yang merupakan titik pusat para penonton. Artinya, yang harus diperhatikan pertama-tama dalam hidup ini adalah masjid alias beribadah kepada Allah.

Jika dibalik, gunungan berbentuk seperti jantung manusia, terdiri dari bilik kanan, bilik kiri, serambi kanan, dan serambi kiri. Menurut R.M. Ismunandar K. dalam Wayang: Asal-Usul dan Jenisnya (1994), hal tersebut mengandung falsafah Islam yang berarti bahwa jantung hati seseorang harus selalu berada di masjid. Jika belum memiliki niat untuk ke masjid, maka iman Islam orang tersebut belum sempurna.

Ada lagi makna gunungan dengan pendekatan keislaman, kali ini dinukil dari Khazanah Pemikiran Pendidikan Islam (2020) yang disusun Dedi Mulyasana dan kawan-kawan. Gunungan berbentuk segi lima: simbol salat lima waktu. Selain itu, bentuk gunungan yang meruncing ke atas melambangkan bahwa manusia hidup di dunia untuk menuju kepada yang di atas, yaitu Allah Sang Maha Pencipta.

Dengan rangkaian makna dan filosofi tersebut, juga dengan keberadaan gunung sebagai fenomena alam ciptaan Tuhan, tidak mengherankan jika gunungan kerap dijadikan simbol yang mengandung makna mendalam. Bukan hanya dalam kosmologi Jawa, tetapi juga amat selaras dengan falsafah ajaran Islam.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: