Geger Pacinan, Cerita Pakubuwono II Menerima Nasihat Pangeran Kalipo Kusumo (2-Tamat)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
geger pacinan, pacinan, pecinan
Ilustrasi peristiwa Geger Pacinan 1740 /Foto: merahputih.com

SANTRI KERTONYONO – Pakubuwono II mendapat hadiah pedang pusaka dari Empu Salembu. Peristiwa itu terjadi saat Pakubuwono II meninggalkan keraton akibat adanya insiden Geger Pacinan.

Bersama para pengikutnya, Pakubuwono II menuju ke wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur guna mencari suaka. Setelah menyerahkan pedang pusaka miliknya, Empu Salembu mengajak Pakubuwono II dan Jayenggrana mengunjungi pembuatan pusaka.

Tempat pembuatan pusaka Empu Salembu kini diberi nama Besalen,” demikian disebutkan dari berbagai sumber.

Saat terjaga dan kemudian berwudlu untuk bersalat subuh, Pakubuwono II melihat adanya blumbang atau sumur dangkal. Blumbang itu cukup besar dengan air yang melimpah serupa segara atau laut. Tempat itu kemudian diberinya nama Segaran.

Saat melakukan perjalanan ke wilayah Gunung Bayangkaki, Pakubuwono II  bertemu Pangeran Kalipo Kusumo, saudaranya yang lama bertapa di gunung Bayangkaki. Pangeran Kalipo Kusumo adalah putra dari Pakubuwono I.

Ia sengaja mengasingkan diri dari hingar bingar duniawi dan memutuskan bertapa di Gunung Bayangkaki. Gunung non aktif itu berada di wilayah Desa Temon Kecamatan Sawo Kabupaten Ponorogo.

Gunung Bayangkaki konon memiliki empat puncak, yang masing-masing memiliki nama dan sejarahnya sendiri. Dari sisi utara terlihat puncak pertama yang diberi nama Gunung Ijo.

Kemudian puncak kedua bernama Gunung Tuo, puncak ketiga bernama Puncak Tumpak atau Puncak Bayangkaki, dan pada ujung barat terdapat puncak keempat yang dikenal dengan Gunung Gentong.

Pada bagian dalam Gunung Bayangkaki terdapat sebuah goa yang bernama Goa Watu Tutup. Goa tersebut dikisahkan pernah menjadi tempat tinggal Pangeran Kalipo Kusumo.

Kemudian Goa Putri Piningit yang dipakai sebagai tempat peristirahatan para putri istri sang pangeran. Ada juga Goa Dandang yang konon menjadi tempat memasak. Goa lain yang berada di sekitarnya adalah Goa Lumbu dan Goa Lawa.

Pertemuan Pakubuwono II dan Pangeran Kalipo Kusumo

Kehadiran Pangeran Kalipo Kusumo di Gunung Bayangkaki diketahui mampu mengubah kondisi masyarakat setempat. Rakyat dikisahkan hidup tentram karena hasil panen selalu melimpah ruah.

Kepada Pangeran Kalipo Kusumo, Pakubuwono II menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Ia juga membeberkan alasan kenapa ia harus meninggalkan tahta. Menanggapi itu Pangeran Kalipo Kusumo meminta Pakubuwono II bertapa di bawah pohon Sawoo (Sawoo sak kembaran) yang berlokasi di selatan Gunung Bayangkaki.

Pakubuwono II patuh. Ia pun bersemedi di bawah pohon Sawoo. Kini, petilasan itu masih bisa dikunjungi dan dikenal bernama petilasan Sunan Kumbul. Selama bertapa Pakubuwono II sering mendapat asupan gula sebesar buah sawo yang terbelah dua.

Pangeran Kalipo Kusumo sendiri hanya membantu doa untuk Pakubuwono II. ia sudah bersumpah tidak akan sekali-kali meninggalkan Gunung Bayangkaki. Saat memasuki usia senja Pangeran Kalipo Kusumo bahkan telah membuat liang lahatnya sendiri di puncak Bayangkaki.

Kesedihan mendalam mendera para pengikutnya saat Pangeran Kalipo Kusumo tutup usia. Dalam duka mendalam mereka tetap menunaikan wasiat, yakni menguburkan jenazah Pangeran Kalipo Kusumo di puncak Gunung Bayangkaki.

Konon, segerombolan laki-laki tua atau dalam bahasa Jawa kaki-kaki mengusung jasad Pangeran Kalipo Kusumo. Mereka membawa dengan penuh kehati-hatian atau dalam bahasa Jawa diartikan dibayang-bayang. Jenazah sampai di puncak gunung

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI