Cerita Semar yang Jadi Simbol Dakwah Islam Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
semar nusantara
Tokoh pewayangan Semar /Foto: Wikipedia.com

SANTRI KERTONYONO – Makna simbolis dari sebuah pertunjukan wayang kulit memang erat kaitannya dengan makna filosofis yang bisa di lihat dari awal pertunjukan. Salah satunya, saat suasana masih kosong dan hanya nampak kelir atau layer merupakan gambaran alam semesta.

Lalu, gedebok atau batang pohon pisang merupakan simbol dari bumi, serta blencong atau lampu sorot sebagai wujud harmoni atau keserasian kegiatan duniawi. Jadi bisa dikatakab bahwa pertunjukan wayang ini secara struktur jalan ceritanya mengandung nilai bak seperti proses penciptaan manusia.

Menelisik sosok Semar sebagai salah satu tokoh pewayangan memang tidak akan ada habisnya. Bagi para penikmat wayang, tokoh Semar ini memiliki tempat tersendiri di hati mereka. Bahkan, tak sedikit yang merasa kagum dengan karakter yang melekat pada wayang ini.

Semar sendiri merupakan tokoh pewayangan yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, sebagai pentolan punakawan. Semar dikenal memiliki sifat adil, suka bercanda, berjiwa adil dan sangat amar makruf nahi munkar, meski secara rupa tidak setampan tokoh-tokoh wayang yang lain.

Wayang punakawan dalam tokoh pewayangan Jawa terdiri dari Semar beserta anak-anaknya, yakni Gareng, Petruk, dan Bagong. Di setiap lakonnya, wayang Punakawan ini sering menyajikan pertunjukan yang sangat menghibur namun tetap kental akan pesan-pesan kehidupan yang bermanfaat.

Namun, nama-nama asli dari tokoh Punakawan ini diyakini bukan dari Bahasa Jawa, melainkan dari Bahasa Arab. Nama Semar berasal dari Bahasa Ismar, Nala Gareng berasal dari Naala Qariin, Petruk berasal dari Fat’ruk, dan Bagong berasal dari Baghaa.

Dalam lakonnya, wayang ini bertidak bak seperti penasehat, teman sekaligus pengingat bagi para kesatria yang lain untuk selalu melakukan kebaikan. Perlu diketahui pula, bahwa wayang ini merupakan hasil modifikasi seni wayang yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga.

Semar lebih akrab di panggil sebagai Ki Lurah dalam setiap cerita pewayangannya. Ia merupakan begawan tetapi dirinya lebih memilih untuk menjadi simbol rakyat jelata. Maka dari itulah, banyak yang menyebut bahwa Semar merupakan wujud manusia setengah dewa.

Secara umum, ia juga digambarkan bak sosok yang memiliki watak rembulan, dengan wajah pucat sebagai bentuk ekspresi pribadi yang tidak mengumbar nafsu. Semar memiliki sebutan semareka den prayitna semare, yang berarti menidurkan diri.

Maksud dari menidurkan diri disini adalah batin yang selalu awas dan pancaindra yang selalu ditidurkan dari segala macam gejolak api dan nafsu negatif. Sebagai punakawan, tokoh Semar dinilai sebagai simbol “pembantu pimpinan” atau abdi, dengan tugas pamomong bagi para ksatria agar tidak tersesat.

Makna dan Simbol yang Tersembunyi di Balik Tokoh Semar

Untuk pertama kalinya tokoh Semar dikenalkan dalam sebuah karya sastra Majapahit yang berjudul Sudamala, dengan kisah Semar yang berperan sebagai penghibur tuannya dengan humor-humor segar. Namun, saat era kesultanan Islam di Jawa, para Wali Songo terutama Sunan Kalijaga masih tetap menjaga warisan budaya Jawa.

Maka dari itu, Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai media dakwahnya untuk mensyiarkan Islam, dan tetap mempertahankan tokoh punakawan ini. Sehingga para masyarakat Jawa yang sebelumnya belum begitu mengenal Islam menjadi lebih terbuka, hal itu merujuk pada pendekatan budaya lokal yang dikedepankan oleh Sunan Kalijaga.

Jurnal “Islam-Jawa: Makna Simbolis Seni Pewayangan “Tokoh Semar” (2021) oleh Muhaimin Subarkah dan Lutfiah Ayundasari menyebutkan bahwa Semar memiliki nama khayangan Batara Ismaya Jati, dan Badranaya. Dari segi Bahasa Arab, Semar berasal dari Ismar yang dalam pengucapan masyarakat Jawa bacaan “is” berubah menjadi “se” dan menjadi Semar.

Arti dari Ismar sendiri adalah paku, yang memiliki filosofis sebagai pengkokoh yang goyah. Hal tersebut juga dikaitkan dengan ajaran Islam yang diajarkan oleh Wali Songo saat berada di Kerajaan Majapahit. Dikisahkan saat itu tengah ada konflik hingga akhirnya didirikan Kesultanan Demak oleh Raden Patah.

Peristiwa tersebut nyatanya sesuai hadist yang menyebutkan “Al Islamu ismaruddun-yaa” yang memiliki makna Islam adalah paku pengkokoh keselamatan dunia.

punakawan
Lakon Punakawan (dari kiri : Bagong, Petruk, Gareng, Semar) /Foto: 3.bp.blogspot.com

Sebuah manifestasi Semar dalam system filsafat pewayangan seperti ingin mengingatkan tentang ajaran-ajaran Islam yang diturunkan oleh Nabi Muhammad SAW, semata-mata hanya untuk mengabdikan diri kepada kemanusiaan dan selalu mengarahkan iman kepada Allah SWT.

Hal ini tak berbeda jauh dengan apa yang dikisahkan dalam pewayangan, Batara Ismaya Jati turun ke bumi untuk menjalankan misi suci, mengabdi kepada manusia yang berbudi luhur dan selalu beriman kepada sang Pencipta. Sehingga, sosok Semar identik dengan sifat yang rendah hati dan jujur.

Tokoh Semar juga disebut-sebut sebagai Badranaya yang berarti kebahagiaan dan kebijaksanaan. Tak sedikit yang meyakini bahwa suata negara akan stabil apabila Semar berwujud ksatria dan bersemayam di pertapaan Kandang Penyu, yang bermakna ibadah merupakan solusi untuk meminta permohonan kehadirat Allah SWT.

Semar juga suatu yang wadag, bak seperti simbol, dan sebagai pengertian dari mitologi. Tokoh pewayangan seperti Semar ini jauh lebih baik apabila dipandang bukan sebagai fakta historis tetapi lebih kepada sesuatu yang bersifat mitologis dan simbolis tentang ke-Esa-an Tuhan.

Wayang memang produk budaya yang telah ada jauh sebelum Islam masuk di tanah Jawa. Namun, wayang mengalami perubahan sejak Islam masuk dan mulai disebarkan, terutama oleh para Wali Songo. Budaya keislaman pada wayang kulit tak hanya bisa dijumpai pada wujud fisiknya, lebih dari itu juga pada istilah-istilah dalam bahasa wayang, lakon, dan tokohnya.

Karakter Pewayangan Semar

Konsep amar makruf nahi munkar yang kini identik dengan diri Semar merupakan hasil modifikasi dari dakwah yang digelorakan oleh Sunan Kalijaga dalam dunia seni wayang itu sendiri. Meskipun begitu, asal-usul tokoh Semar masih eksis dengan keyakinan dari Jawa Kuno.

Semar merupakan putra dari Sahyang Tunggal dan Dewi Wiranti, ia memiliki dua saudara masing-masing Sahyang Antogo (Togog), dan Sahyang Manikmaya (Bhatara Guru). Dikisahkan, ketiga bersaudara itu terlahir dari sebuah telur bercahaya yang pecah saat dipuja oleh Sahyang Tunggal.

Telur bercahaya yang pecah itu tiba-tiba berubah, kulit telur menjadi Togog, putih telur menjadi Semar, dan kuning telur menjadi Bhatara Guru. Kala itu Semar menetap di daerah bernama Karang Kadempel dengan nama Semar Badranaya.

Di daerah tersebut, ia mengangkat tiga orang anak yakni Gareng, Petruk dan Bagong. Hingga jadilah mereka tokoh pewayangan yang disebut sebagai Punakawan. Sosok Semar digambarkan dengn karakter yang tidak menarik, ia berwajah pria tetapi memiliki dada yang menonjol seperti wanita, tubuhnya yang pendek, pantat yang besar hingga selalu ingin kentut.

Meskipun perawakannya seperti itu, Semar mengandung nilai luhur yang sangat tinggi dalam seni kriya wayang kulit purwa gagrak Surakarta, Semar diceritakan memiliki lima wanda, yaitu mega, dunuk, mbrebes, ginuk, dan miling.

Rambut Semar yang identik dan khas berbentuk kuncung juga memiliki makna mendalam, akuning sang kuncung yang berarti menggangap dirinya sebagai pelayan. Tubuh semar yang besar namun pendek menggambarkan bumi tempat tinggal seluruh umat manusia.

Tangan kanan yang mengarah ke atas melambangkan pemujian kepada sang Maha Kuasa, sementara tangan kiri menghadap ke bawah bermakna penyerahan diri secara maksimal, keilmuan yang netral namun simpatik. Semar juga digambarkan selalu tersenyum dengan muka sembap, berarti suka dan duku.

Wajah tua dengan bentuk tambut kuncung bak anak kecil melambangkan tua dan muda. Ia juga dianggap sebagai inkarnasi dewa yang berbaur dengan masyarakat, baik laiki-laki maupun perempuan. Itulah simbol Semar yang berwajah laki-laki namun berdada besar dengan postur tubuh berdiri dan nampak sedang berjongkok.

Jika dilihat, tokoh Semar juga berjalan menghadap ke atas, melambangkan ketaatannya kepada sang Pencipta. Seperti ungkapan mbergegeg ugeg ugeg, hmel-hmel, sak ndulit langgeng, yang bermakna daripada diam lebih baik berusaha untuk lepas dan mencari makan, walaupun hasilnya sedikit, tetapi akan terasa abadi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: