Cerita Maospati, Raden Ronggo Prawirodirjo III dan Cikal Bakal Rakyat Jawa Melawan Kolonial Belanda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
KPH Ronggo Prawirodirdjo III, santrikertonyono.com
Napak Tilas Makam KPH Ronggo Prawirodirdjo III Giripurno, Kec. Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur /Foto: Istimewa

SANTRI KERTONYONO – Pertengahan Oktober 1810. Suasana di wilayah Maospati Kabupaten Magetan (dulu wilayah Madiun) Jawa Timur, mencekam. Di kediaman Raden Ronggo Prawirodirjo III (1795-1810) atau Eyang Ronggo, terlihat suasana persiapan perang.

Pada tembok kediaman yang terlihat seperti keraton setengah jadi itu, di mana-mana berdiri bambu runcing dan meriam. Beberapa hari sebelumnya, Raden Ronggo Prawirodirjo III telah meninggalkan Yogyakarta. Ia pamit pulang ke karsidenan Madiun (Mancanagara Timur) dan akan tinggal hingga akhir bulan puasa (ramadan).

Pergi ke Madiun dan kemudian tinggal di Maospati Magetan, sebenarnya hanyalah bagian dari siasat. Di Maospati Magetan, Raden Ronggo Prawirodirjo III diam-diam menyiapkan perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Eyang Ronggo keluar dari istana (keraton) dengan membawa 200 orang prajurit,” tutur Heri Nurwanto, juru kunci pesarean Eyang Ronggo Prawirodirdjo III di Gunung Bancak, Kecamatan Parang Kabupaten Magetan.

Catatan Peter Carey dalam Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855) menyebut Raden Ronggo ke luar dari Yogya menuju Madiun dengan membawa serta 300 orang pengikutnya.

Belanda kaget. Residen Yogya Pieter Engelhard (Belanda) sontak berusaha mencegat. Sepucuk surat buru-buru dilayangkan kepada asisten residen di Surakarta yang intinya memerintahkan Sunan dan Prangwedono (Mangkunegoro II) menghadang rombongan Raden Ronggo.

Tetapi sudah terlambat, Bupati Wedana itu (Raden Ronggo) sudah melewati Delanggu,” tulis Peter Carey.

Raden Ronggo merupakan Bupati Wedana wilayah karsidenan Madiun (Mancanagara Timur). Selain menantu, ia juga penasihat Sultan Hamengkubuwono II (HB II). Ratu Maduretno, istrinya adalah putri HB II.

Karenanya ia lebih banyak bertempat tinggal di keraton Yogyakarta dari pada di karsidenan Madiun. Leluhur Raden Ronggo yang berasal Maospati Magetan, memiliki kedekatan erat dengan Sultan Yogya.

Kakeknya, yakni Ronggo Prawirodirjo I atau Ronggo Wirosentiko adalah orang dekat ayah HB II. Selama perang Giyanti (1746-1755), Ronggo Wirosentiko merupakan panglima perang Sultan Mangkubumi.

Pemberontakan yang disiapkan Raden Ronggo di Maospati Magetan didukung penguasa dan pangeran di Jawa Tengah bagian selatan. Raden Ronggo juga menghidupkan semua jaringannya.

Kontak-kontak dilakukan, termasuk menghubungi Pangeran Prangwedono atau Mangkunegoro II yang merupakan teman karibnya. Para bupati bawahan juga diberitahu bahwa Raden Ronggo tidak akan hadir di acara Garebeg Mulud pada April 1811.

Raden Ronggo juga menggalang komunitas muslim Tionghoa di pesisir utara dan semua kekuatan sosial yang merasa ditindas Belanda. “Ronggo mendeklarasikan dirinya sebagai pengayom dari semua orang Jawa dan orang Tionghoa yang telah diperlakukan tidak adil oleh pemerintah (Eropa),” tulis Peter Carey.

Perang pun meletus dengan kekuatan yang tidak seimbang. Raden Ronggo mendahului dengan menyerang wilayah Jipang (sekarang Cepu Kabupaten Blora). Meski didukung banyak kekuatan lokal, jumlah pasukan kolonial Belanda jauh lebih besar.

Gubernur Jenderal Belanda Daendels mengerahkan ribuan pasukan infanteri, dua skuadron kavaleri, dan dua kompi artileri yang ditarik kuda. Daendels bergerak cepat, termasuk memotong kekuatan Solo-Yogya yang dianggap berpotensi menyokong Raden Ronggo.

Belanda menggempur dengan sebanyak lima ribu pasukan,” terang Heri Nurwanto.

Pada pertengahan November 1810, pasukan Raden Ronggo terdesak. Ia juga menerima laporan bahwa komandan pasukannya yang bernama Dasamuka, terbunuh. Kendati demikian Raden Ronggo masih sulit dikalahkan.

Kolonial Belanda meminta bantuan  Sultan HB II. Menurut Heri, penguasa keraton Yogyakata tidak berdaya, dan karenanya menerjunkan pasukan penangkap Raden Ronggo hidup atau mati. HB II menunjuk Purwodipuro, iparnya sebagai komandan.

Keputusan HB II kelak dikritik Pangeran Diponegoro yang melanjutkan perlawanan Raden Ronggo dalam Perang Jawa (1825-1830). Langkah Sultan membantu Belanda dengan menerjunkan pasukan pengejar di bawah pimpinan Purwodipuro disebut Diponegoro sebagai dosa besar.

Keraton Yogyakarta mengerahkan lima ribu orang pasukan,” tambah Heri Nurwanto.

 

Ronggo Prawirodirdjo III , santrikertonyono.com
Pintu Masuk KPH Ronggo Prawirodirdjo III /Foto: Istimewa

Ratu Adil yang Membersihkan Jawa

Sebelum memberontak, Raden Ronggo Prawirodirjo III sempat menulis surat untuk Tumenggung Notodiningrat dan Sumodiningrat. Ia mengungkapkan alasan kenapa kolonial Belanda harus dilawan.

Raden Ronggo menegaskan dirinya ingin membebaskan Keraton Yogya dari campur tangan kekuasaan Belanda yang menindas. Membebaskan Jawa dari cengkraman nafsu angkara murka.

Untuk menghancurkan mereka yang terus menerus menipu orang Jawa,” tulis Raden Ronggo seperti dikutip dari Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855).

Raden Ronggo sempat dirundung duka mendalam. Sebelum pemberontakan meletus, Ratu Maduretno, istri yang sangat dicintainya meninggal dunia saat melahirkan.

Sesuai wasiatnya, Ratu Maduretno ingin disemayamkan di dekat pohon tunjung atau sekar tunjung yang beraroma harum. Putri Sultan HB II itu kemudian dimakamkan di Gunung Bancak, Magetan. Area makam itu diberi nama Redi Rancang Kencono. Wasiat tentang sekar tunjung diungkapkan oleh Kiai Khaliyah, guru ngaji dan spiritualnya.

Saat eyang putri (Ratu Maduretno) sedo, eyang Ronggo menangis siang malam di makam eyang putri (Saat eyang putri meninggal dunia, eyang Ronggo menangis siang malam di makam eyang putri). Tidak ada yang bisa merayu kecuali Kiai Khaliyah,” terang Heri Nurwanto.

Peristiwa kematian Ratu Maduretno terjadi pada November 1809. Babad Pakualaman menyebut, Raden Ronggo menghabiskan waktu sepanjang hari dan malam dengan meratap di depan pusara istrinya. “Ia bahkan ingin mati mengikuti jejak istrinya sehingga para bupati bawahannya membujuk-bujuk agar ia segera sadar diri”.

Begitu mulai sadar, Raden Ronggo menerima tuduhan terlibat serangan lintas perbatasan di Ponorogo pada 31 Januari 1810. Tuduhan yang tidak pernah dilakukan itu menjadi awal pemicu Raden Ronggo mengobarkan perang (pemberontakan) pada November 1810.

Dalam perhitungan Jawa, pemberontakan Raden Ronggo berlangsung di waktu yang sakral. Pemberontakan terjadi pada tahun Wawu, tahun ketujuh dari putaran siklus Jawa delapan tahunan yang sarat makna. “Saat itu dilihat sebagai waktu yang tepat bagi Ratu Adil untuk muncul,” demikian perhitungan Jawa.

Babad Keraton Yogya menyebut Wakil Raden Ronggo, yakni Mas Tumenggung Sumonegoro mendapat isyarat gaib bahwa Raden Ronggo asal Maospati itu akan memerintah di keraton Kuta Petik, Kerajaan Ketanggo.

Kuta Petik adalah nama lain dari Maospati, sebuah tempat yang dipilih oleh ahli nujum atau ahli perbintangan sebagai ndalem atau tempat baru paling menguntungkan bagi Raden Ronggo. “Hal itu mensugesti Ronggo untuk melihat dirinya sebagai seorang Ratu Adil,” tulis Peter Carey.

Dalam pemberontakan itu Raden Ronggo memakai gelar Kangjeng Susuhunan Prabu Ingologo Ingkang Anggrenggani Kraton Pinarjurit Ing Maospati (Yang Mulia Paduka Raja , penguasa dalam perang dari istana ratu pinarjurit di Maospati yang sedang mengembara memimpin perang).

Untuk mendapatkan bayang-bayang kewibawaan Sultan HB I, Raden Ronggo memakai ungkapan: berkah para leluhur yang merupakan ratu pinarjurit. Ia juga membuat tanda-tanda kebesaran.

Yakni seperti warna emas penuh untuk raja baru, warna hijau dengan pita emas untuk para deputinya, dan warna biru untuk pejabat daerah yang mendukung perjuangannya. “Maospati lalu dengan cepat menjadi keraton alternatif”.

Pemberontakan Raden Ronggo dalam waktu cepat berhasil dipadamkan. Karena kalah jumlah, pasukan Raden Ronggo terus terdesak. Pada 17 Desember 1810, dalam pertempuran penghabisan di tepi Bengawan Solo, hampir semua pasukan Raden Ronggo masuk ke dalam hutan.

Yang tersisa tinggal wakilnya, yakni Sumonegoro, patihnya Mas Ngabehi Puspodiwiryo, pembawa payung serta panji-panji di medan tempur. Setelah saling tembak berulangkali, Raden Ronggo kemudian berhadap-hadapan dengan seorang bupati Yogya yang berada di pihak Belanda.

Raden Ronggo ditanya keinginannya. Jawaban Raden Ronggo: ia tidak ingin menyusahkan orang Jawa, tetapi ingin membunuh siapa saja yang menjadi beban bagi orang Jawa dan orang Tionghoa di mancanagara.

Usai mengucapkan itu, Raden Ronggo meloncat turun dari kuda sekaligus menyerang dengan tusukan tombak. Peristiwa itu terjadi di Desa Sekaran, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Melalui sebuah serangan balasan tombak, bupati Yogya berhasil menusuk dada Raden Ronggo. Serdadu infanteri Belanda langsung bergerak cepat dan menghabisinya. Nasib serupa juga dialami Sumonegoro.

Jenazah keduanya dimandikan di Bengawan Solo, dibungkus kain putih dan dibawa ke Yogya,” tulis Peter Carey.

Sementara menurut Heri Nurwanto, kematian Raden Ronggo terjadi setelah dirinya membiarkan ditusuk tombak oleh Purwodipuro, ipar Sultan HB II. Daripada bertempur dengan kerabat sendiri, Raden Ronggo memilih dihabisi.

Tombak yang dipakai menghabisi adalah milik Raden Ronggo yang sengaja ia serahkan kepada Purwodipuro. “Daripada perang saudara, dan pertimbangan keraton harus tetap berdiri, tombak kiai blabak diserahkan kepada adik ipar raja (Purwodipuro),” kata Heri Nurwanto.

Informasi yang diperoleh Heri, jasad Raden Ronggo oleh Belanda kemudian diseret dengan kereta kuda dari Sekaran, Bojonegoro menuju Yogya. Tiba di alun-alun Yogja, Belanda menggantung jasad Raden Ronggo sehari semalam.

Belanda ingin mempertontonkan kepada rakyat Jawa:  begitulah nasib seorang pemberontak. Dalam Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855),jenazah Raden Ronggo dan Sumonegoro tiba di ibu kota kerajaan (Yogyakarta) pada 21 Desember 1810.

Sultan HB II kemudian memerintahkan jenazah digantung dalam keranda terbuka. Lokasi penggantungan di persimpangan Pangurakan, dekat gardu di alun-alun utara. Lokasi tersebut biasa dipakai untuk mempertontonkan jasad para kriminal kepada publik.

Pada 22 Desember 1810 atau sehari kemudian, jenazah Raden Ronggo dan Sumonegoro diturunkan dan dimakamkan di pekuburan para penghianat di Banyusumurup yang berlokasi tenggara Imogiri, dan berbatasan dengan Gunung Kidul.

Diponegoro muda boleh jadi menyaksikan pemandangan memilukan itu saat mengunjungi keraton,” tulis Peter Carey.

Jasad Raden Ronggo Masih Utuh

Raden Ronggo Prawirodirjo III merupakan ayah dari Sentot Ali Basah Prawirodirjo yang kelak pada Perang Jawa (1825-1830) menjadi salah satu senopati perang andalan Pangeran Diponegoro.

Dari informasi yang diperoleh Heri Nurwanto, Raden Ronggo Prawirodirjo III juga mertua dari Pangeran Diponegoro. Putri Raden Ronggo dengan Ratu Maduretno yang juga diberi nama Maduretno, adalah istri Diponegoro.

“Putri Eyang Ronggo adalah istri Pangeran Diponegoro,” kata Heri Nurwanto. Kematian Raden Ronggo yang diperlakukan tidak adil sangat memukul batin Pangeran Diponegoro.

Diponegoro sempat mengucapkan: kematian Raden Ronggo sebagai hilangnya banteng benteng keraton Yogyakarta atau Mataram. “Sakicale eyang Ronggo bakal ilang banteng benteng keraton Ngayogyokarto atau Mataram”.

Pada masa pemerintahan Sultan HB IX nama Raden Ronggo yang oleh Belanda dicap penghianat direhabilitasi. Sultan HB IX juga memindahkan jenazah Raden Ronggo dari Banyusumurup ke Magetan, bersebelahan dengan makam Ratu Maduretno, istri tercintanya.

Menurut Heri, pemindahan jenazah Raden Ronggo berlangsung tahun 1957. Terjadi peristiwa aneh saat proses berlangsung. Hari itu yang merupakan musim kemarau, kata Heri tiba-tiba hujan menguyur deras disertai petir kilat menyambar. “Dan dari informasi yang menyaksikan, jenazah eyang Ronggo masih utuh,” terangnya.

Menurut Heri, eyang Ronggo merupakan seorang pemeluk Islam taat sekaligus penganut  tarekat syatariah, yakni ajaran tasawuf (mistik Islam) yang juga dianut Diponegoro beserta sebagian besar pengikutnya.

Raden Ronggo, kata Heri juga seorang penghafal Al Quran (hafiz), termasuk juga menulis kitab manunggaling kawulo dengan sing gae urip. Konon, kitab Raden Ronggo masih berada di Belanda. “Eyang Ronggo seorang hafiz,” ungkapnya.

Kepada para pengikutnya, Raden Ronggo berpetuah bahwa Islam dan Jawa itu nyawiji (menjadi satu). Islam dan Jawa hendaknya berjalan beriringan. Ibarat dua tangan, Islam atau agama adalah tangan kanan, dan Jawa merupakan tangan kiri.

Untuk meraih kepentingannya, kolonial Belanda kata Heri kemudian membelah Islam dan Jawa. Heri juga mengatakan, popularitas makam Eyang Ronggo di Magetan tidak terlepas dari peranan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya asal Pekalongan.

Pada suatu hari, Habib Luthfi tiba-tiba datang ke Magetan dan berziarah di makam Eyang Ronggo. Saat itu disampaikan bahwa pesarean Eyang Ronggo adalah makam yang sudah lima tahun dicarinya.

Dalam suatu acara di Ngawi, kata Heri seingat dirinya Habib Luthfie sempat berpesan kepada warga eks Karsidenan Madiun: sebelum berziarah ke makam aulia yang lain, sebaiknya lebih dulu menziarahi makam Eyang Ronggo. “Habib Luthfi rawuh sendiri, berziarah di makam Eyang Ronggo,” pungkas Heri.

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: