Cara KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah Merangkul Budaya Jawa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin
ahmad-dahlan
KH. Ahmad Dahlan /Foto: pwmu.co

Muhammadiyah yang didirikan Kiai Haji Ahmad Dahlan pada 1912 awalnya dikenal sebagai gerakan puritanisme dengan gaya modern. Dalam perkembangannya, KH Ahmad Dahlan justru menunjukkan bahwa Muhammadiyah bisa merangkul budaya Jawa.

Lahir di lingkungan Kraton Yogyakarta menjadikan Ahmad Dahlan amat lekat dengan adat-istiadat Jawa. Sosok bernama kecil Muhammad Darwisy ini tumbuh-besar di kalangan para abdi dalem istana sekaligus di lingkungan Masjid Besar Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ahmad Dahlan dikenal pandai bergaul dan bisa masuk ke berbagai kalangan. Bukan hanya di lingkungan umat Islam, ia juga punya relasi erat dengan kaum intelektual termasuk dari kalangan cendekiawan-priyayi Jawa, bahkan dengan orang-orang Belanda dan para pemeluk Kristen sekalipun.

Relasi Erat Ahmad Dahlan dengan “Organisasi Jawa”

Berdirinya Muhammadiyah sebenarnya tidak terlepas dari peran para priyayi Jawa aktivis Boedi Oetomo (BO). Dikutip dari Paradigma Politik Muhammadiyah (2020) karya Ridho Al-Hamdi, Ahmad Dahlan diminta bergabung dengan BO dan diberikan bimbingan tentang cara berorganisasi yang masih amat langka pada awal abad ke-20 itu.

Abdul Munir Mulkhan dalam Warisan Intelektual K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Muhammadiyah (1990) memberikan penjelasan yang lebih jelas bahwa keanggotaan Ahmad Dahlan di BO bahkan memperlancar pengesahan berdirinya Muhammadiyah oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Selain BO, Muhammadiyah juga berjalan selaras bersama Sarekat Islam (SI). SI adalah organisasi politik rakyat Indonesia pertama, berdiri beriringan dengan Muhammadiyah. Sebelum dikenal luas secara nasional, SI lekat dengan perpaduan Islam dan Jawa yang nantinya menjadi perhimpunan rakyat terbesar di Indonesia pada masa kolonial Hindia Belanda.

Tidak sedikit orang Muhammadiyah yang menjadi anggota SI. Bahkan, disebutkan dalam buku 7 Bapak Bangsa (2008) suntingan Iswara N. Raditya, Ahmad Dahlan duduk di jajaran Komisaris SI Pusat serta memimpin SI cabang Yogyakarta. Ia juga mengajak para abdi dalem dan para pegawai keagamaan istana Kesultanan Yogyakarta dan Pakualaman untuk bergabung dengan SI.

KH Ahmad Dahlan Mengapresiasi Budaya Jawa

Sepulang dari tanah suci untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya sekaligus memperdalam ajaran Islam di pusatnya, Ahmad Dahlan pernah gusar dengan praktik-praktik budaya Jawa yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Namun, pada akhirnya Ahmad Dahlan menyadari bahwa ia sendiri berasal dari lingkungan Jawa yang amat kental, bahkan ia terlahir dari rahim Jawa. Terlebih, jika dirunut dari nasabnya, Ahmad Dahlan masih terhubung dengan Wali Songo, perintis syiar Islam di Jawa yang menjalankan dakwah secara damai dan bersinergi dengan kearifan lokal.

Yunus Salam melalui buku Riwayat Hidup K.H. A. Dahlan: Amal dan Perjuangannya (1968) menguraikan bahwa Muhammad Darwisy alias Ahmad Dahlan adalah keturunan dari Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Ahmad Dahlan pada akhirnya diangkat sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta untuk menggantikan ayahnya, K.H. Abu Bakar, selaku penanggung jawab urusan keagamaan di lingkungan istana. Dari sinilah kemudian tokoh berjuluk sang pencerah ini berusaha merangkul budaya Jawa untuk disinergikan dengan keislaman.

Dipaparkan Ahmad Najib Burhani dalam bukunya bertajuk Muhammadiyah Jawa (2010), Muhammadiyah menekankan lima aspek dalam upaya mengapresiasi budaya Jawa, yaitu perilaku, bahasa, busana, keanggotaan, dan nama.

Perilaku Ahmad Dahlan terkait tradisi Jawa yang sebenarnya dilakukan dalam rangka memperingati hari-hari besar Islam, misalnya Garebeg Mulud (untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad), tidak lagi mempertentangkan unsur takhayul atau bid’ah. Namun, hal itu justru dinilai sebagai motivasi untuk berdakwah demi memasyarakatkan Islam dengan lebih luas lagi.

Dari segi bahasa, tulis Ahmad Najib Burhani, Muhammadiyah berusaha menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Jawa agar lebih mudah diterima masyarakat. Bahkan, Ahmad Dahlan mempersilakan khotbah Jumat disampaikan dengan bahasa Jawa.

Begitu pula dalam hal berbusana. Pakaian merupakan identitas sosial dalam berinteraksi dengan orang lain. Sebagian warga Muhammadiyah pada masa awal justru kerap menunjukkan identitasnya sebagai orang Jawa dengan mengenakan busana batik ketimbang memakai pakaian ala Arab.

Berikutnya adalah keanggotaan dan nama. Keanggotaan yang dimiliki suatu kelompok tertentu pastinya menunjukkan identitas kelompok tersebut. Pada sisi keanggotaan dan nama, papar Ahmad Najib Burhani, Muhammadiyah adalah model yang dekat dengan identitas kolektif yang kental dengan unsur istilah Jawa.

Di tangan K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah lahir bukan untuk melawan tradisional Jawa. Muhammadiyah pada dasarnya bermaksud menyinergikan Islam dengan Jawa, atau dalam bahasa Ahmad Najib Burhani, Islam secara kultural dijawakan dan Jawa secara substansi dirasionalkan serta dimodernkan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on linkedin

SERING DIBACA

IKUTI KAMI

%d blogger menyukai ini: